126
Jurnal Syntax Admiration
Vol. 2 No. 1 Januari 2021
p-ISSN : 2722-7782 e-ISSN : 2722-5356
Sosial Teknik
IMPLEMENTASI NILAI-NILAI BUDAYA KERJA ISLAM BAITUL MAAL
WATTAMWIL (BMT) KOTA PEKANBARU
Raudah Tul Jannah
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, Indonesia
INFO ARTIKEL
ABSTRACT
Diterima
18 Desember 2020
Diterima dalam bentuk revisi
12 Januari 2021
Diterima dalam bentuk revisi
This study aims to find out the implementation and
implementation of BMT in pekanbaru city as well as
inhibitory and supporting factors. This research uses
qualitative method. The research was conducted at
baitul maal wattamwil (BMT) in pekanbaru city. While
the samples in this study were employees at each BMT
al-ittihad, BMT partners arta and BMT islam abdurrab.
Data analysis techniques use descriptive. The results of
research where the implementation of Islamic work
culture on BMT in pekanbaru city based on aspects of
shidiq has been applied. Istiqomah aspect has not been
done by some employees because it is still lacking
consistency because of the focus of employees who are
still lacking in work and discipline of employees in the
work. Fathanah aspects have been done, but there are
still some employees who have not implemented. Aspects
of trust, employees always try to be responsible in
completing loyal work. Fathanah aspects have been
done, but there are still some employees who have not
implemented. Aspects of trust, employees always try to
be responsible in completing loyal work. Aspects of
tabligh have been done by employees in the work.
Factors supporting the application of Islamic work
culture such as providing motivation to employees, the
creation of good communication and a conditional work
environment that can affect the spirit of employees in
work. While inhibiting the implementation of Islamic
work culture such as poor communication, limited
ability of human resources and employee understanding
of the rules that apply.
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan
dan pengimplementasian BMT di kota pekanbaru serta
faktor penghambat dan pendukungnya. Penelitian ini
menggunakan metode kualitatif. Penelitian dilaksanakan
pada baitul maal wattamwil (BMT) di kota pekanbaru.
Keywords:
shidiq, istiqomah; fathanah,
trust; tablig
Implementasi Nilai-Nilai Budaya Kerja Islam Baitul Maal Wattamwil (BMT) Kota
Pekanbaru
Syntax Admiration, Vol. 2, No. 1, Januari 2021 127
Kata kunci:
shidiq; istiqomah; fathanah;
amanah; tablig
Sementara sampel dalam penelitian ini adalah karyawan
pada masing-masing BMT al-ittihad, BMT mitra arta
dan BMT islam abdurrab. Teknik analisis data
menggunakan deskriptif. Hasil penelitian dimana
pelaksanaan budaya kerja islam pada BMT di kota
pekanbaru berdasarkan aspek shidiq sudah diterapkan.
Aspek istiqomah belum dilakukan oleh beberapa
karyawan karena masih kurang konsistensi hal ini
disebabkan fokus karyawan yang masih kurang dalam
bekerja serta kedisiplinan karyawan didalam bekerja.
Aspek fathanah sudah dilakukan, tetapi masih ada
beberapa karyawan yang belum menerapkan. Aspek
amanah, karyawan selalu berusaha untuk bertanggung
jawab didalam menyelesaikan setia pekerjaan. Aspek
tabligh sudah dilakukan oleh karyawan dalam bekerja.
Faktor pendukung penerapan budaya kerja islam seperti
pemberian motivasi kepada karyawan, terciptanya
komunikasi yang baik serta lingkungan kerja yang
kondisif yang dapat mempengaruhi semangat karyawan
dalam bekerja. Sementara penghambat
pengimplementasian budaya kerja islam seperti
komunikasi yang kurang maksimal, keterbatasan
kemampuan dari sumber daya manusia dan pemahaman
karyawan terhadap aturan-aturan yang berlaku.
Pendahuluan
Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin pesat kegiatan perekonomian
pun mengalami perkembangan, tidak ketinggalan juga ekonomi islam yang semakin
berkembang pada seluruh lini bisnis kontemporer dan harus dibarengi dengan
manajemen sumber daya manusia yang amanah dan sejalan dengan nilai-nilai islam
(Syaiful, 2013). Berawal dari perkembangan tersebut yang pada akhirnya banyak
membutuhkan sumber daya manusia yang paham akan nilai-nilai dan berperilaku islami
yang merupakan akibat dari suatu budaya yang diterapkan pada suatu organisasi dengan
konsep islamiyah (Waluya, 2007). Meskipun selalu tersedia lapangan pekerjaan, baik
dari lembaga pemerintah maupun swasta yang memberikan kesempatan bekerja, namun
tetap saja tidak dapat menampung banyaknya pencari kerja, karena hanya sumber daya
manusia yang handal dan berprestasilah yang dapat menjadi keunggulan kompetitif bagi
negara berkembang untuk mendapatkan manfaat dari era globalisasi pada saat ini
terutama pada perusahaan-perusahaan yang bergerak pada bidang keuangan seperti
perbankan dan lembaga keuangan lainnya yang menerapkan dasar-dasar berdasarkan
syariat islam.
Salah satu lembaga keuangan syariah tersebut adalah baitul maal wat tamwil
(BMT) yang berperan dalam bidang bisnis dan berperan dalam bidang sosial (Uniba &
Nourma Dewi, 2017). BMT merupakan dua kelembagaan yang menjadi satu yaitu
lembaga baitul maal dan lembaga baitul tamwil yang mana masing-masing keduanya
Raudah Tul Jannah
128 Syntax Admiration, Vol. 2, No. 1, Januari 2021
memiliki prinsip dan produk berbeda meskipun memiliki hubungan yang sangat erat
antar keduanya dalam menciptakan kondisi perekonomian yang merata dan dinamis.
BMT adalah lembaga keuangan mikro yang dioperasikan dengan prinsip-prinsip bagi
hasil dengan tujuan untuk menumbuh kembangkan usaha mikro di lembaga keuangan
syariah lainnya (Azra, 2003).
Keberadaan BMT sebagai lembaga keuangan mikro syariah mengalami
perkembangan yang dinamis, sekarang BMT sudah banyak dijumpai dibeberapa wilayah
di Indonesia (Zubair, 2016). Hadirnya BMT saat ini merupakan fenomena baru, yang
menjadi upaya untuk memenuhi kebutuhan umat islam dalam jasa keuangan. BMT juga
sangat diminati oleh masyarakat karena manajemen yang digunakan bersifat terbuka,
dapat diakses oleh masyarakat umum, mudah mendapat informasi serta penanganan
yang cepat dalam melakukan transaksi. Potensi BMT di kota pekanbaru pada saat ini
cukup besar karena berdiri ditengah-tengah pasar dan terdapat usaha-usaha kecil yang
membutuhkan modal.
Hasil observasi yang penulis lakukan dari beberapa BMT yang terdapat dikota
pekanbaru, banyak permasalahan yang terjadi yang dapat menurunkan nilai-nilai budaya
kerja, salah satunya adalah mengenai budaya islam. Karena pada dasarnya BMT adalah
suatu lembaga yang berbasis syariah dimana lebih mengutamakan nilai-nilai budaya
islam didalam pelaksanaannya terutama menurut konsep budaya kerja islam seperti
permasalahan kedisiplinan karyawan didalam bekerja diantaranya adalah adalah
karyawan yang datang terlambat dan tidak sesuai dengan waktu yang ditetapkan,
terkadang tidak hadir tanpa alasan didalam bekerja (Tho’in, 2011). Pada prinsipnya
fungsi budaya kerja bertujuan untuk membangun keyakinan sumber daya manusia atau
menanamkan nilai-nilai tertentu yang melandasi atau mempengaruhi sikap dan perilaku
yang konsisten serta komitmen membiasakan suatu cara kerja di lingkungan masing-
masing.
Penurunan kinerja karyawan juga dapat disebabkan karena kurangnya disiplin
karyawan didalam mematuhi setiap peraturan yang ditetapkan perusahaan, seperti
karyawan yang sering keluar ruangan pada saat jam kerja, karyawan kurang
memaksimalkan jam kerja sehingga penyelesaian pekerjaan terkadang menjadi
terlambat. Dengan kurangnya kedisiplinan karyawan dalam bekerja maka hal ini akan
menurunkan kinerja karyawan. Sementara hubungan kerja antar karyawan dengan
pimpinan serta sesama karyawan juga dapat menjadi penyebab turunnya kinerja
karyawan didalam bekerja, karena hubungan kerja yang kurang baik sehingga dapat
mengganggu pelaksanaan kinerja. Budaya kerja masing-masing individu akan
menentukan terbentuknya budaya instansi dimana dia bekerja. Tentu saja hal ini juga
dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti kepemimpinan. Budaya instansi yang
mengandung nilai-nilai agama karena selalu mendahulukan pembinaan terhadap
akhlakul karimah, sejak tahap awal perlu dimantapkan sebagai manifestasi utama dari
budaya instansi. Budaya instansi akan terekspresi dalam seremoni dan ritual yang
substansinya adalah substansi agamawi. Maka tahap confontation of dependency and
Implementasi Nilai-Nilai Budaya Kerja Islam Baitul Maal Wattamwil (BMT) Kota
Pekanbaru
Syntax Admiration, Vol. 2, No. 1, Januari 2021 129
authority dapat dilembutkan melalui budaya jujur, sabar, tidak mudah iri dan terpancing
untuk melakukan hal-hal yang dimurkai agama.
Melaksanakan peraturan dan disiplin yang tinggi salah satunya adalah dengan
absensi kerja. Disiplin kerja merupakan perasaan taat dan patuh terhadap nilai-nilai
yang dipercayakan termasuk melakukan pekerjaan tertentu yang dianggap menjadi
tanggung jawabnya (Arif et al., 2020). Disiplin kerja dapat diketahui salah satunya
adalah melalui indikator absensi kerja. Absensi kerja adalah suatu kegiatan atau rutinitas
yang dilakukan oleh karyawan untuk membuktikan dirinya hadir atau tidak hadir dalam
bekerja di suatu perusahaan. Absensi ini berkaitan dengan penerapan disiplin yang
ditentukan oleh masing-masing perusahaan.
Budaya kerja islam memberikan dampak yang baik terhadap perilaku individu
dalam bekerja (Zainuri, 2016). Sikap kerja yang positif memungkinkan hasil yang
menguntungkan seperti kerja keras, komitmen dan dedikasi terhadap pekerjaan dan
sikap kerja lainnya yang tentu saja hal ini dapat memberi keuntungan bagi individu itu
sendiri dan organisasi. Agama islam adalah agama serba lengkap, yang di dalamnya
mengatur seluruh aspek kehidupan manusia baik kehidupan spiritual maupun kehidupan
material termasuk di dalamnya mengatur masalah budaya kerja. Secara implisit banyak
ayat al-qur’an yang menganjurkan umatnya untuk bekerja keras, diantaranya dalam
quran surat al insirah: 7-8, yang artinya ”Apabila kamu telah selesai (dari satu urusan),
maka kerjakan dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain” (Khojin et al., 2020). Juga
dijelaskan dalam hadis rosul yang artinya: Berusahalah untuk urusan duniamu seolah-
olah engkau akan hidup selamanya (Surur, 2017).
Budaya kerja dalam islam terkait erat dengan nilai-nilai (values) yang terkandung
dalam Al-Qur’an dan al-sunnah tentang “kerja” yang dijadikan sumber inspirasi dan
motivasi oleh setiap muslim untuk melakukan aktivitas kerja di berbagai bidang
kehidupan (Irham, 2012). Manusia diciptakan di dunia ini sebagai makhluk yang paling
sempurna bentuknya (fi ahsani taqwīm), yang ditugaskan untuk menyembah allah dan
menjauhi larangannya. Manusia merupakan makhluk jasmaniah dan rohaniah yang
memiliki sejumlah kebutuhan sandang, pangan, papan, udara dan sebagainya. Guna
memenuhi kebutuhan jasmaniah itu manusia bekerja, berusaha, walaupun tujuan itu
tidak semata-mata hanya untuk keperluan jasmaniah semata (Nurdin, 2020).
Islam mengajarkan kepada umatnya untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik
agar setiap pekerjaan mampu memberikan nilai tambah dan mengangkat derajat
manusia tersebut (Tasmara, 2002). Jika ia bekerja sesuai dengan tanggung jawab yang
telah diberikan maka peningkatan derajat akan mengikuti sesuai dengan apa yang telah
ia kerjakan, sebagaimaan dalam Al-Qur’an Surat Al-An-am: 132











Artinya: Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang)
dengan apa yang dikerjakannya. dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka
kerjakan.
Islam mewajibkan umatnya agar terus menambah atau mengembangkan ilmunya
dan tetap berlatih. Suatu ketrampilan yang sudah dimiliki dapat saja hilang, akibat
Raudah Tul Jannah
130 Syntax Admiration, Vol. 2, No. 1, Januari 2021
meninggalkan latihan, padahal manfaatnya besar untuk masyarakat. Karena itu, melepas
atau menterlantarkan ketrampilan tersebut termasuk perbuatan dosa. Konsep Itqan
memberikan penilaian lebih terhadap hasil pekerjaan yang sedikit atau terbatas, tetapi
berkualitas, dari pada output yang banyak, tetapi kurang bermutu.
Berdasarkan latar belakang yang telah dibahas, penelitian ini sangat penting untuk
dilaksanakan hal ini disebabkan kerena dalam budaya kerja islam ketaatan dan
kepatuhan sangat penting untuk selalu dilakukan dengan tujuan agar karyawan selalu
bertanggung jawab dengan penuh keikhlasan didalam menyelesaikan setiap pekerjaan
yang diberikan. Maka peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul
implementasi nilai-nilai budaya kerja islam baitul maal wattamwil (BMT) kota
pekanbaru.”
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk menggali secara
mendalam mengenai implementasi nilai-nilai budaya kerja islam di baitul maal
wattamwil kota pekanbaru (Moleong, 2013). Adapun objek dalam penelitian ini adalah
baitul maal wattamwil (BMT) yang ada di kota pekanbaru. Sementara sampel dalam
penelitian ini adalah karyawan pada karyawan pada masing-masing BMT al-ittihad,
BMT mitra arta dan BMT abdurrab. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini
menggunakan teknik deskriptif kualitatif (Sugiyono, 2017).
Hasil dan Pembahasan
A. Deskriptif Hasil Tanggapan Responden Mengenai Budaya Kerja Islam Pada
BMT Di Kota Pekanbaru
Budaya organisasi tumbuh dan berkembang sejalan dengan awal kelahiran
sistem organisasi itu sendiri. Jika ketika awal organisasi lahir yang masih dengan
masa krisis, maka budaya organisasi pada umumnya masih pada fase tersbut yang
penuh dengan krisis. Budaya organisasi memiliki manfaat yang sangat strategis
dalam sebuah organisasi ataupun perusahaan. Budaya organisasi yang baik dan
mapan akan berdampak sangat positif terhadap kehidupan sebuah organisasi dan
perusahaan. Bahkan tidak hanya sekedar bermanfaat secara materiil namun juga
memiliki dampak spiritual dan kebarokahan.
Berikut adalah hasil rekapitulasi tanggapan responden mengenai budaya kerja
islam pada masing-masing baitul maal wattamwil yang menjadi sampel dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
Hasil rekapitulasi dimana nilai rata-rata yang dihasilkan sebesar 82,89% dalam
katagori sangat baik, hasil ini menjelaskan bahwa karyawan pada BMT al-Ittihad
sudah merapkan budaya kerja islam dengan baik seperti bersikap jujur didalam
ucapan serta dapat memanfaatkan waktu kerja dengan maksimal sebagai
tanggung jawab yang harus diselesaikan. Dengan kata lain, budaya kerja islam
menuntun seseorang untuk bekerja sesuai dengan ajaran islam agar terhindar
dari perbuatan-perbuatan yang tidak disukai oleh allah swt.
Implementasi Nilai-Nilai Budaya Kerja Islam Baitul Maal Wattamwil (BMT) Kota
Pekanbaru
Syntax Admiration, Vol. 2, No. 1, Januari 2021 131
2.
Hasil rekapitulasi tanggapan respondendi BMT mitra artadimana nilai rata-rata
yang dihasilkan sebesar 72,89% dalam katagori baik, hal ini menjelaskan bahwa
penerapan budaya kerja pada BMT mitra arta sudah dilakukan dengan baik oleh
karyawan. Karena didalam penerapannya karyawan dituntut untuk bekerja
dengan kejujuran, kesabaran, dan bertanggung jawab atas pekerjaan yang
dibebankan kepada dirinya.
3.
Hasil rekapitulasi tanggapan responden di BMT islam abdurrab dimana nilai
rata-rata yang dihasilkan sebesar 73,67% dalam katagori baik, hasil ini
menjelaskan bahwa BMT islam abdurrab sudah menerapkan budaya kerja islam
dengan baik didalam menjalankan usahanya. Karena pada dasarnya BMT islam
abdurrab adalah salah satu unit usaha yang bergerak didalam menghimpun dana
zakat, infak sedekah dan wakaf sehingga membutuhkan karyawan-karyawan
yang memiliki sikap yang baik seperti patuh terhadap syariat islam didalam
melaksanakan suatu pekerjaan.
4.
Hasil rekapitulasi dimana nilai rata-rata yang dihasilkan sebesar 76,59% dalam
katagori baik, menjelaskan bahwa penerapan budaya kerja islam adalah salah
satu hal yang baik didalam meningkatkan kualitas kerja karyawan. Seperti
adanya kejujuran, dapat memahami setiap pekerjaan, amanah dalam bekerja dan
selalu bertanggung jawab didalam melaksanakan pekerjaan.
B. Pelaksanaan Budaya Kerja Islam pada BMT di Kota Pekanbaru.
Hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa, penerapan budaya kerja islam
dapat menjadi faktor didalam meningkatkan kualitas kerja yang dihasilkan. Karena
di setiap perusahaan, penerapan budaya kerja yang baik bertujuan untuk
meningkatkan kinerja yang dihasilkan. Dimana salah satunya adalah penerapan
budaya kerja yang bersifat islam.
Setiap organisasi yang menerapkan budaya kerja islam adalah merupakan
lembaga da’wah islam. Setiap organisasi islam menyelenggarakan aktivitas da’wah,
baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal tersebut dilakukan dengan
berbagai macam pendekatan, baik melalui da’wah secara khusus, pendidikan,
ekonomi, sosial, budaya maupun yang lainnya. Untuk menyahuti kebutuhan
da’wah yang semakin beragam diperlukan organisasi islam yang memiliki
ATVMN (asas, tujuan, visi, misi dan nilai-nilai) yang jelas. Selain itu, juga
memiliki strategi, program, aktivitas dan pengembangan yang berwawasan ke
depan. Sehingga organisasi islam dapat ditata dengan sistem organisasi dan
management modern yang profesional.
C. Implementasi Nilai-Nilai Budaya Kerja Islam dari Aspek Penilaian Penilaian
Shidiq, Amanah, Fathanah dan Tablig serta Istiqamah pada BMT di Kota
Pekanbaru
Untuk mendorong perilaku individu yang diharapkan tersebut muncul atau
terbentuk maka norma-norma pengatur tersebut tentunya harus didukung oleh nilai
Raudah Tul Jannah
132 Syntax Admiration, Vol. 2, No. 1, Januari 2021
atau prinsip moral yang kuat dan lebih fundamental, yakni nilai-nilai atau prinsip-
prinsip yang didasarkan pada nilai atau prinsip yang islam. Nilai-nilai yang islam
tersebut berlandaskan konsep yang islam dan karakteristik yang islam pula.
1.
Hasil wawancara yang telah dilakukan, penerapan sikap shidiq atau kejujuran
dalam bekerja menjadi suatu hal yang sangat penting untuk diterapkan. Karena
kejujuran adalah kunci utama seseorang memiliki kinerja yang baik didalam
melaksanakan pekerjaan. Maka dari itu, banyak pimpinan pada sebuah lembaga
atau perusahaan mengharapkan setiap karyawannya agar selalu bersikap jujur
didalam bekerja.
2.
Hasil wawancara yang telah dilakukan, penerapan budaya kerja islam dengan
aspek penilaian istiqomah atau konsistensi sangat penting untuk dilaksanakan.
Dalam pelaksanaanya, penerapan budaya kerja islam dengan penilaian istiqomah
ini masih menemukan beberapa kekurangan yang dapat menurunkan kualitas
dari pekerjaan yang dihasilkan seperti diantaranya karyawan yang masih kurang
konsisten. Kurang fokusnya karyawan didalam bekerja, sehingga pekerjaan tidak
dapat terselesaikan tepat waktu dan kedisiplinan karyawan yang masih sering
keluar ruangan.
3.
Hasil wawancara yang telah penulis lakukan diperoleh kesimpulan dimana sifat
fathanah dalam bekerja menjadi hal yang sangat penting dimiliki oleh seorang
karyawan, terutama karyawan yang bekerja di perusahaan yang menerapkan
budaya kerja islam. Namun secara umum bekerja dalam islam dapat diartikan
seluruh perbuatan atau usaha manusia baik yang ditujukan untuk dunianya
maupun yang ditujukan untuk akhiratnya. Sistem ekonomi islam memandang
bekerja sebagai bentuk kebaikan. Apabila seseorang bekerja dengan baik maka
telah dipandang berbuat kebaikan dan hasil pekerjaannya dinilai baik secara
materil maupun imateril. Dengan bekerja, manusia bisa memberi manfaat bagi
dirinya sendiri maupun orang lain. Apalagi bisa mengerjakan kewajiban yang
lain.
4.
Hasil wawancara yang telah dilaksanakan mengenai amanah dimana suatu
jabatan itu bukan untuk diminta apalagi diperebutkan. Ada beberapa upaya yang
bisa dilakukan agar bisa amanah dalam menjalankan tugas yang dipercayakan
kepada kita, diantaranya yaitu: jujur, ikhlas, kerja keras untuk memberikan dan
melakukan yang terbaik, bertanggung jawab dan kesatria berani menerima resiko
apapun sebagai konsekwensi dari sikap amanah yang diambilnya. Amanah
dalam melaksanakan tugas yang diamanahkan seharusnya menjadi karakter bagi
setiap muslim. Apapun dan dimanapun posisi kita, kita harus tetap bisa amanah,
jujur dan bertanggung jawab dengan tugas yang dipercayakan kepada kita.
Semoga allah meridhoi segala apa yang kita lakukan dan upayakan.
5.
Hasil wawancara mengenai tablig adalah menyampaikan atau komunikatif. Jadi
segala firman allah swt yang diwahyukan kepada nabi disampaikan dan tidak ada
yang disembunyikan meskipun itu menyinggung nabi. Untuk itu kita harus
meneladani sifat nabi agar kita dalam dunia tidak tersesat. Segala sesuatu yang
Implementasi Nilai-Nilai Budaya Kerja Islam Baitul Maal Wattamwil (BMT) Kota
Pekanbaru
Syntax Admiration, Vol. 2, No. 1, Januari 2021 133
kita kerjakan setiap hari haruslah sesuai dengan apa yang sudah di ajarkan oleh
nabi muhammad saw, sebab apa yang di kerjakan nabi itu semuanya sudah pasti
benar dan baik.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil dari penelitian yang telah dilakukan, maka kesimpulan dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
Pelaksanaan budaya kerja islam pada BMT di kota pekanbaru berdasarkan aspek
penilaian sebagai berikut (a) aspek shidiq sudah diterapkan oleh karyawan dalam
bekerja dengan menjadikan sikap kejujuran menjadi hal yang sangat penting untuk
dilakukan oleh karyawan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang
diberikan perusahaan. (b) aspek istiqomah belum dilakukan oleh beberapa karyawan
karena masih kurang konsistensi karyawan didalam bekerja menyelesaikan pekerjaan
sesuai dengan waktu yang ditetapkan oleh perusahaan hal ini disebabkan fokus
karyawan yang masih kurang dalam bekerja serta kedisiplinan karyawan didalam
bekerja. (c) aspek fathanah sudah dilakukan oleh karyawan didalam bekerja, tetapi
masih ada beberapa karyawan yang belum menerapkan hal ini disebabkan karena
faktor latar belakang pendidikan dan kurangnya pemahaman karyawan atas pekerjaan
yang diberikan. (d) aspek amanah menjelaskan didalam bekerja, karyawan selalu
berusaha untuk bertanggung jawab didalam menyelesaikan setia pekerjaan yang
diberikan kepadanya dengan baik dan sesuai dengan standar yang diinginkan
perusahaan. (e) aspek tabligh sudah dilakukan oleh karyawan dalam bekerja seperti
memberikan contoh yang baik dari atasan ke bawahan atau sesama rekan kerja,
sehingga hal ini akan membantu didalam melaksanakan pekerjaan.
2.
Faktor pendukung penerapan budaya kerja islam seperti pemberian motivasi kepada
karyawan, terciptanya komunikasi yang baik serta lingkungan kerja yang kondisif
yang dapat mempengaruhi semangat karyawan dalam bekerja. Sementara
penghambat pengimplementasian budaya kerja islam seperti komunikasi yang kurang
maksimal, keterbatasan kemampuan dari sumber daya manusia dan pemahaman
karyawan terhadap aturan-aturan yang berlaku.
Raudah Tul Jannah
134 Syntax Admiration, Vol. 2, No. 1, Januari 2021
BIBLIOGRAFI
Arif, M., Maulana, T., & Lesmana, M. T. (2020). Pengaruh Disiplin Kerja dan
Kemampuan Kerja terhadap Prestasi Kerja Karyawan. Jurnal Humaniora: Jurnal
Ilmu Sosial, Ekonomi dan Hukum, 4(1), 106119.
Azra, A. (2003). Berderma Untuk Semua: Wacana dan Praktik Filantropi Islam.
Jakarta: Mizan Publika.
Irham, M. (2012). Etos Kerja Dalam Perspektif Islam. Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu
Ushuluddin, 14(1), 924.
Khojin, N., Utami, S. N., & Syaifulloh, M. (2020). Pengaruh Tingkat Pendidikan
Terhadap Produktivitas Kerja Pembutik Bawang Di Sub Terminal Agribisnis
Larangan. Syntax, 2(5).
Moleong, L. J. (2013). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Mosal.
Nurdin, F. (2020). Pandangan Al-Qur’an dan Hadist terhadap Etos Kerja. Jurnal Ilmiah
Al-Mu’ashirah, 17(1), 137150.
Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Alfabeta:
Bandung.
Surur, M. (2017). Fenomena Etos Kerja dalam Perspektif Islam. RISDA: Jurnal
Pemikiran Dan Pendidikan Islam, 1(2), 12.
Syaiful, A. (2013). Tantangan Globalisasi terhadap Pendidikan Islam di Pesantren.
Jurnal Kariman, 1(1), 1732.
Tasmara, T. (2002). Membudayakan Etos Kerja Islami. Bandung: Gema Insani.
Tho’in, M. (2011). Pengaruh Faktor-faktor Kualitas Jasa terhadap Kepuasan Nasabah di
Baitul Mal Wat Tamwil (BMT) Tekun Karanggede Boyolali. Muqtasid: Jurnal
Ekonomi Dan Perbankan Syariah, 2(1), 7389.
UNIBA, F. H., & Nourma Dewi, S. H. (2017). Regulasi Keberadaan Baitul Maal Wat
Tamwil (bmt) dalam Sistem Perekonomian di Indonesia. Serambi Hukum, 11(01),
96110.
Waluya, B. (2007). Sosiologi: Menyelami Fenomena Sosial di Masyarakat. Bandung:
PT Grafindo Media Pratama.
Zainuri, A. (2016). Strategi Penerapan Lima Nilai Budaya Kerja di Kementerian Agama
Menuju Pelayan Prima. Medina-Te: Jurnal Studi Islam, 12(1), 114.
Zubair, M. K. (2016). Analisis Faktor-Faktor Sustainabilitas Lembaga Keuangan Mikro
Implementasi Nilai-Nilai Budaya Kerja Islam Baitul Maal Wattamwil (BMT) Kota
Pekanbaru
Syntax Admiration, Vol. 2, No. 1, Januari 2021 135
Syariah. Iqtishadia: Jurnal Kajian Ekonomi Dan Bisnis Islam STAIN Kudus, 9(2),
201226.