1
Jurnal Syntax Admiration
Vol. 2 No. 1 Januari 2021
p-ISSN : 2722-7782 e-ISSN : 2722-5356
Sosial Teknik
ANALISIS KINERJA CIRCUIT BREAKER 20 KV PLTA WONOREJO
BERMEDIA SF6 (SULPHUR HEXAFLOURIDE)
Abizar Farzi, Denny Irawan dan Rini Puji Astutik
Universitas Muhammadiyah Gresik Jawa Timur, Indonesia
INFO ARTIKEL
ABSTRACT
Diterima
18 Desember 2020
Diterima dalam bentuk revisi
12 Januari 2021
Diterima dalam bentuk revisi
In everyday life there are often various kinds of electrical
consumption disorders therefore to prevent such
disturbances occur required electrical breakers or circuit
breakers. Installation of circuit breaker is intended to
avoid damage to equipment that will later cause
obstruction of electricity distribution to consumers. This
study aims to analyze the feasibility of circuit breaker
performance in the event of interference with the method
of a number of tests carried out on circuit breakers. The
results of research related to circuit breaker performance
is good. This can be seen from the quality value of SF6
content with purity of 98.8%, the value of alignment with
the time difference of 0.1 ms, contact prisoners 46μΩ,
and for the result of isolation prisoners circuit breaker is
37.51GΩ. From the results of the study that mangacu in
the pmt handbook (energy breaker) is still much better.
ABSTRAK
Dalam kehidupan sehari-hari sering terjadi berbagai
macam gangguan konsumsi listrik oleh karena itu untuk
mencegah gangguan tersebut terjadi diperlukan alat
pemutus listrik atau circuit breaker. Pemasangan circuit
breaker ditujukan untuk menghindari terjadinya
kerusakan pada peralatan yang nantinya akan
menyebabkan terhambatnya penyaluran tenaga listrik ke
konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa
kelayakan kinerja circuit breaker pada saat terjadi
gangguan dengan metode sejumlah pengujian yang di
lakukan pada circuit breaker. Adapun hasil penelitian
terkait kinerja circuit breaker adalah baik. Hal tersebut
dapat dilihat dari nilai kualitas kandungan SF6 dengan
purity 98,8%, nilai keserempakkan dengan selisih waktu
0,1 ms, tahanan kontak 46µΩ, dan untuk hasil tahanan
isolasi circuit breaker yaitu 37,51GΩ. Dari hasil
penelitian tersebut yang mangacu pada buku pedoman
PMT (pemutus tenaga) masih jauh lebih baik.
Keywords:
circuit breaker; gas media
sf6; 2015- 2015 prisoner
contact; isolation
prisoners
Kata kunci:
circuit breaker; media gas
sf6; keserempakkan;
tahanan kontak; tahanan
isolasi
Abizar Farzi, Denny Irawan dan Rini Puji Astutik
2 Syntax Admiration, Vol. 2, No. 1, Januari 2021
Pendahuluan
Di era modern listrik sebagai sumber energi yang sangat penting dan telah menjadi
kebutuhan utama untuk memenuhi segala kebutuhan energi di masyarakat (Agung,
2013). Hampir semua aspek yang berhubungan dengan perekonomian dan
perkembangan teknologi tidak dapat dipisahkan dengan masalah kelistrikan, sehingga
kebutuhan akan listrik saat ini maupun yang akan datang akan terus meningkat
(Aribowo, 2019). Untuk memenuhi kebutuhan energi listrik maka dibangun pusat
pembangkit tenaga listrik, gardu induk, saluran transmisi dan saluran distribusi sebagai
media penyalur aliran daya listrik hingga sampai ke konsumen. salah satu pusat
pembangkit energi listrik yang dibangun di wilayah Malang adalah PLTA Wonorejo.
Untuk menunjang proses penyaluran tenaga listrik, perlu dilakukan perawatan,
pemeliharan dan uji kinerja peralatan pembangkit. Pada pembangkit listrik PLTA
Wonorejo yang langsung didistribusikan ke konsumen, sistem pemutus tenaga
merupakan hal yang sangat vital dalam kelangsungan pasokan listrik, dalam hal ini
Peran Pemutus Tenaga (PMT) atau sering disebut juga Circuit Breaker (CB) sangat
penting (Shukla & Demetriades, 2014), sehingga keberadaan pemutus tenaga berperan
sebagai penghubung atau pemutus aliran arus dan pengisolasi daerah terganggu dari
sistem daya listrik pada saat kondisi tidak normal di saluran distribusi. Keandalan
pemutus tenaga merupakan indikasi keandalan sistem daya listrik, sehingga kelayakan
pemutus tenaga dapat diketahui apabila dilakukan pemantuan secara berkala dan
berkelanjutan (Goeritno et al., 2018).
Pemutus tenaga dengan tegangan 20 KV yang dilengkapi dengan gas SF6
(Sulphur Hexafluoride) (Setiono, 2013) adalah perangkat pemutus tenaga yang telah
menjadi bagian dari sistem distribusi daya listrik pada PLTA Wonorejo (Marsudi,
2016). Pemutus tenaga dengan dua keadaan operasi yaitu terbuka dan tertutup. Pada saat
terjadi gangguan maka pemutus tenaga akan bekerja dengan cepat untuk memadamkan
busur api dengan media SF6 sehingga dapat minimalisir kerusakan peralatan secara
meluas. Selama beroperasi dalam keadaan normal pemutus tenaga dapat membuka dan
menutup tanpa berakibat terjadi kerugian. Pemutus tenaga yang digunakan secara terus
menerus dengan jangka waktu yang lama dapat berakibat kepada penurunan kinerja
pemutus tenaga. Untuk menjamin terhadap keandalan operasi, pemutus tenaga harus
diuji kinerjanya setalah sekian lama beroperasi.
Sejumlah parameter pengujian yang dilakukan untuk mendapatkan nilai standar
kelayakan operasi dari circuit breaker dan sebagai upaya untuk memperoleh
karakteristik pemutus tenaga media SF6 agar diketahui tingkat kinerja pemutus tenaga
sehingga circuit breaker mempunyai keandalan yang tinggi saat terjadi gangguan dan
dapat memutus aliran listrik secara cepat.
Analisis Kinerja Circuit Breaker 20 KV PLTA Wonorejo Bermedia SF6 (Sulphur
Hexaflouride)
Syntax Admiration, Vol. 2, No. 1, Januari 2021 3
Metode Penelitian
Penelitian dilaksanakan di MRO( maintenance repair and overhoul) (Vieira &
Loures, 2016) PT. PJB UP Gresik yang dimulai dengan study literature (Libaray
Research) (Surani, 2019) terhadap penelitian terdahulu untuk mengumpulkan data dan
dilanjutkan dengan sejumlah pengujian pada PMT bermedia gas SF6 telah ditentukan
dari pabrik pembuat dan sebagai data acuan. Untuk menunjang pelaksanaan penelitian,
diperlukan bahan dan alat pada penelitian ini yang meliputi data sheet spesifikasi teknis,
pressure tester, SF6 Multi-Analyser, insulation tester, service cart DILO, HI-Pot tester,
circuit breaker analyzer. Metode penelitian ini merupakan tahapan-tahapan penelitian
untuk mencapai tujuan penelitian. Berikut ini diagram alir metode penelitian seperti
ditunjukkan pada gambar 1.
Abizar Farzi, Denny Irawan dan Rini Puji Astutik
4 Syntax Admiration, Vol. 2, No. 1, Januari 2021
Gambar 1. Diagram alir sejumlah pengujian PMT
Hasil dan Pembahasan
Pemutus tenaga media gas SF6 sebagai objek penelitian (Hasan, 2012) adalah
PMT gas SF6 jenis FPX241206 20 KV buatan Alsthom Prancis. Penempatan PMT
PLTA Wonorejo sebagai pemutus di saluran distribusi.
Mulai
Analisis Kinerja PMT
Pengukuran tekanan, kelembapan
dan kemurnian SF6
Apakah pengukuran
kualitas SF6 selesai?
Pengukuran keserempakkan kontak
Proses OPEN-CLOSE-
OPEN
Apakah pengukuran
keserempakkan
selesai?
Pengukuran tahanan
kontak dan isolasi
Pengukuran tahanan kontak
dan tahanan isolasi
Apakah pengukuran
tahanan sudah
selesai?
Selesaii
YA
BELUM
YA
YA
BELUM
BELUM
Analisis Kinerja Circuit Breaker 20 KV PLTA Wonorejo Bermedia SF6 (Sulphur
Hexaflouride)
Syntax Admiration, Vol. 2, No. 1, Januari 2021 5
A. Kualitas Gas SF6
Data pengukuran terhadap kualitas gas SF6 yang digunakan pada PMT terdiri
atas tekanan gas, kemurnian dan kelembapan. Hasil pengukuran kualitas gas SF6
seperti ditunjukan pada tabel 1.
Tabel 1. Nilai tekanan, kemurnian dan kelembapan PMT
FPX241206 20 KV
Phase
Tekanan
Akhir
Kualitas SF6
Purity
(%)
Dew Point
(- ⁰C atm)
98091835
1,7
98,8
6,9
98081819
1,7
98,8
9,0
9810148108
1,7
98,8
7,4
9810139509
1,7
98,2
8,8
9810132407
1,7
98,2
7,6
9809212707
1,7
98,7
7,4
Berdasarkan tabel 3 ditunjukkan hasil pengukuran tekanan gas, kemurnian
(purity) dan kelembapan (dew point) (Pratama & Arfianto, 2019). Dari hasil
pengukuran terhadap nilai kemurnian gas SF6 yang dilakukan dan selanjutnya
dibandingkan dengan nilai standar yang dikeluarkan oleh CIGRE atau GEC
Alsthom. Nilai standar oleh CIGRE untuk kemurnian gas SF6 lebih besar dari 97%,
sedangkan kemurnian yang terukur paling rendah 98,8% yang berarti PMT masih
sesuai acuan, karena bernilai lebih besar dari syarat minimum.
Dari hasil pengukuran kelembapan (dew point) gas SF6 diperoleh nilai dew
point yaitu -9 C atm dan dibandingkan dengan nilai standar CIGRE yaitu <-5C
yang masih sangat jauh dari batas yang disyaratkan, sehingga PMT media gas SF6
masih layak dioperasikan pada PMT.
B. Keserempakkan Kontak PMT
Nilai keserempakkan kontak PMT saat membuka atau menutup didasarkan
pada hasil penunjukkan circuit breaker analyzer (Goeritno & Syaputra, 2014).
Tabel 4. Hasil Pengukuran Keserempakkan dari posisi open to close
BREAKER TIMING RESULT
FASA
R
981013
9509
FASA
S
981013
2407
FASA
T
980921
2707
Standard
Manufacture
∆ TIME
59,20
59,40
59,80
50
0.6 mS
(Std. < 10
mS)
Abizar Farzi, Denny Irawan dan Rini Puji Astutik
6 Syntax Admiration, Vol. 2, No. 1, Januari 2021
Dari tabel 4 dapat dilihat hasil pengukuran keserempakkan dari posisi open to
close dari tiap fasa R, S, T dengan standar nilai pabrikan 50 milidetik dan hasil
selisih waktu antar fasa 0,6 milidetik, sehingga dengan pada mengacu standar PLN
bahwa selisih waktu yang diizinkan <10 milidetik bahwa PMT masih dalam kondisi
bagus.
Tabel 5. Hasil pengukuran keserempakkan dari posisi close to open
BREAKER TIMING RESULT
FASA
R
98091
835
FASA
S
98081
819
FASA
T
98101
48108
Standard
Manufactur
e
∆ TIME
69,40
69,20
69,20
50
0.2 mS
(Std. < 10
mS)
Berdasarkan hasil tabel 5 hasil pengukuran keserempakkan dari posisi close to
open dari tiap fasa R, S, T dengan selisih waktu antar fasa 0,2 milidetik dan
mengacu pada standar PLN <10 milidetik yang berarti operasi keserempakkan
kontak masih bagus, karena dibawah standar acuan PLN.
C. Tahanan Kontak
Tabel 6. Hasil pengukuran tahanan kontak
FASA
TEST
CURRENT
RESIST
ANCE
STANDAR
HASIL UJI
AMPS
µΩ
R
9809183
5
200,0
46,0
Standart PLN
P3B
( R < 100 µΩ )
S
9808181
9
200,0
47,0
T
9810148
108
200,0
44,0
Berdasarkan tabel 6 hasil pengukuran tahanan kontak tiap fasa nilai
pengukuran yang paling besar yaitu fasa S=47 µΩ dan nilai tersebut masih jauh
lebih kecil jika dibandingkan dengan nilai standar yang dikeluarkan oleh ANSI atau
PLN yaitu <100 µΩ, sehingga nilai tahanan kontak yang terukur masih lebih baik
dari standar yang ditetapkan.
D. Tahanan Isolasi
Nilai tahanan isolasi dan kebocoran arus dilakukan sebanyak dua kali dengan
menggunakan DC high potensial test untuk menguji material isolasi pada breaker
Analisis Kinerja Circuit Breaker 20 KV PLTA Wonorejo Bermedia SF6 (Sulphur
Hexaflouride)
Syntax Admiration, Vol. 2, No. 1, Januari 2021 7
dengan melakukan injeksi tegangan diatas tegangan nominal breaker (Tasiam,
2017).
Tabel 7. Hasil pengukuran tahanan isolasi
BAG. YANG DIUKUR
HASIL
(GΩ)
KETERANGAN
KONTAK
SISI ATAS
GND
9810139509
GND
5,95
BAIK
9810132407
GND
16,95
BAIK
9809212707
GND
20,89
BAIK
KONTAK
SISI
BAWAH
GND
9810139509
GND
11,18
BAIK
9810132407
GND
18,43
BAIK
9809212707
GND
37,51
BAIK
Berdasarkan tabel diatas hasil pengukuran tahanan isolasi masih dalam kondisi
baik dengan mengacu pada standar IEEE 43-2000 yang di pakai oleh PLN minimum
tahanan isolasi 1 MΩ/1KV. Dari hasil tersebut masih jauh lebih baik dibandingkan
dengan batas minimal sesuai PLN. Bila dilihat dari hitungan teori standar tahanan
isolasi dengan rumus:
R=((1000.U))/Q.U.2,5
R=((1000.20000 V))/(30000 V).20000 V.2,5
= 33 MΩ
Dimana:
R= Tahanan isolasi minimal
U= Tegangan kerja
Q= Tegangan megger
1000= Bilangan tetap
2,5= Faktor keamanan (apabila baru).
Tabel 8. Hasil pengukuran kebocoran arus
BAG. YANG
DIUKUR
HASIL
(uA)
Time (s)
KETERANGAN
9810139509
GND
4,80
60,00
Baik tdk ada
breakdown
9810132407
GND
1,70
60,00
Baik tdk ada
breakdown
9809212707
GND
1,40
60,00
Baik tdk ada
breakdown
9810139509
GND
2,60
60,00
Baik tdk ada
breakdown
9810132407
GND
1,60
60,00
Baik tdk ada
breakdown
9809212707
GND
0,70
60,00
Baik tdk ada
breakdown
Abizar Farzi, Denny Irawan dan Rini Puji Astutik
8 Syntax Admiration, Vol. 2, No. 1, Januari 2021
Berdasarkan tabel diatas hasil pengukuran keboran arus dengan high potencial
masih sangat kecil yaitu 4,8 µA dengan mengacu pada standar IEEE 43-2000 dan
VDE (catalogue 228/4) minimum kebocoran arus yang diizinkan setiap KV yaitu 1
mA.
Penelitian ini dilakukan dengan memperhatikan beberapa penelitian terdahulu
yang membahas tema yang bersinggungan. Beberapa penelitian terdahulu dibawah
ini:
1. (Goeritno et al., 2018) Kinerja pemutus tenaga tegangan tinggi bermedia gas Sf6
berdasrkan sejumlah parameter diri”, EECCIS volume 12, No.2. Tidak dilakukan
pengujian kebocoran arus pada circuit breaker.
2. (Aribowo, 2019) ”Analisis hasil uji PMT 150KV pada gardu induk Cilegon baru
BAY KS 1”, Seminar Fortei. Tidak ada pengujian kandungan gas SF6.
3. (Pambudi et al., 2015) “Pengujian keserempakkan pemutus tenaga (PMT) Three
Pole 150 KV bay trafo gardu induk Simulator Udiklat Semarang (TLM
Akademi)”, UNDIP. Hanya melakukan pengujian keserempakkan.
Perbedaan utama dari penelitian yang sebelumnya adalah:
1. Pengujian pada circuit breaker dilakukan secara menyeluruh seperti kualitas
kandungan gas SF6, keserempakkan, tahanan kontak, tahanan isolasi dan
kebocoran arus.
2. Peralatan pengujian yang digunakan di PT.PJB UP Gresik memenuhi standar kel
ayakan dan dilakukan kalibrasi perlatan secara berkala sehingga mendapatkan
hasil pengujian yang baik.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengukuran dan pembahasan maka disimpulkan secara
keseluruhan PMT 20KV media gas SF6 masih sangat layak jika dioperasikan lebih
lanjut, karena parameter yg terukur masih sesuai standar, bahkan cendrung jauh lebih
baik dari standar yang ditetapkan. Kualitas SF6 untuk nilai kemurnian (purity) terukur
rata-rata 98% dan nilai kelembapan (dew point) terukur -7Catm, yang jika
dibandingkan dengan standar PLN > 97% atau CIGRE -5C parameter gas SF6 masih
bagus untuk digunakan pada PMT. Keserempakkan kontak pada saat operasi menutup
atau membuka dengan selisih waktu 0,6 milidetik saat operasi open to close dan 0,2
milidetik saat operasi close to open, masih jauh lebih baik dibandingkan dengan standar
PLN yaitu dibawah 10 milidetik. Tahanan kontak terukur berkisar 46µΩ yang jika
dibandingkan dengan standar PLN <100 µΩ masih jauh lebih baik, sehingga nilai
tahanan kontak PMT masih dalam kondisi baik. Tahanan isolasi yang terukur berkisar
37,51GΩ, sedangkan standar acuan dari PLN untuk tahanan isolasi PMT 20 KV yaitu
diatas 20 MΩ dan secara perhitungan yaitu 33MΩ. Untuk kebocoran arus masih sangat
kecil yaitu 4,8 µA dengan mengacu pada standar IEEE 43-2000 dan VDE (catalogue
228/4) minimum kebocoran arus yang diizinkan setiap KV yaitu 1 mA. Secara
keseluruhan pengukuran tahanan isolasi dan kebocoran arus yang mengacu pada standar
yang telah ditetapkan PMT masih layak untuk dioperasikan.
Analisis Kinerja Circuit Breaker 20 KV PLTA Wonorejo Bermedia SF6 (Sulphur
Hexaflouride)
Syntax Admiration, Vol. 2, No. 1, Januari 2021 9
BIBLIOGRAFI
Agung, A. I. (2013). Potensi Sumber Energi Alternatif dalam Mendukung Kelistrikan
Nasional. Jurnal Pendidikan Teknik Elektro, 2(2).
Aribowo, D. (2019). Analisis Hasil Uji PMT 150kV Pada Gardu Induk Cilegon Baru
BAY KS 1. JTEV (Jurnal Teknik Elektro Dan Vokasional), 5(1.1), 5965.
Goeritno, A., Rasiman, S., & Komara, Z. (2018). Kinerja Pemutus Tenaga Tegangan
Tinggi Bermedia Gas SF6 Berdasarkan Sejumlah Parameter Diri. Jurnal EECCIS,
12(2), 104111.
Goeritno, A., & Syaputra, B. I. (2014). Kelayakan Operasi Pemutus Tenaga (PMT)
Tegangan Ekstra Tinggi Bermedia Gas Sulphur Hexaflourite (Sf6) Berdasarkan
Kualitas Gas, Keserempakan Titik Titik Kontak, dan Parameter Resistans. Di
JUTEKS (Jurnal Teknik Elektro Dan Sains), 1(1), 17.
Hasan, B. (2012). Analisis Penggunaan Gas Sf6 Pada Pemutus Tenaga (PMT) Di Gardu
Induk Cigereleng Bandung. Electrans, 11(2), 8193.
Marsudi, D. (2016). Politeknik Negeri Sriwijaya 4. Pembangkitan Energi Listrik, 7(1),
431.
Pambudi, A. S., Facta, M., & Warsito, A. (2015). Perbandingan Kinerja Rangkaian
Perbaikan Faktor Daya Jenis Konverter Buckboost Topologi Satu Tingkat dan Dua
Tingkat dengan Beban Lampu Fluorescent. Transmisi, 17(4), 206217.
Pratama, I. A., & Arfianto, T. (2019). Analisis [Sf] _6 pada Sealingend terhadap
Tekanan Moisture Content dan Dewpoint Gis Kiaracondong. Rang Teknik Journal,
2(1).
Setiono, I. (2013). Gas SF 6 (Sulfur Hexa Fluorida) Sebagai Pemadam Busur Api Pada
Pemutus Tenaga (PMT) Di Saluran Transmisi Tegangan Tinggi. METANA, 13(1),
16.
Shukla, A., & Demetriades, G. D. (2014). A survey on hybrid circuit-breaker
topologies. IEEE Transactions on Power Delivery, 30(2), 627641.
Surani, D. (2019). Studi literatur: Peran teknolog pendidikan dalam pendidikan 4.0.
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan FKIP, 2(1), 456469.
Tasiam, F. J. (2017). Proteksi Sistem Tenaga Listrik. Teknosain.
Vieira, D. R., & Loures, P. L. (2016). Maintenance, repair and overhaul (MRO)
fundamentals and strategies: An aeronautical industry overview. International
Journal of Computer Applications, 135(12), 2129.