57
Jurnal Syntax Admiration
Vol. 2 No. 1 Januari 2021
p-ISSN : 2722-7782 e-ISSN : 2722-5356
Sosial Teknik
ANALISIS NILAI TUKAR RUPIAH, PRODUKSI BATUBARA, PRODUKSI
MINERAL TERHADAP PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK SEKTOR
MINERAL DAN BATUBARA
Elieser Simangunsong, Mardianto, Maulana Latief Rabbani dan
Perlian Fitra Aufa
Politeknik Keuangan Negara STAN Tangerang Selatan, Indonesia
[email protected] dan pearlian_fitra_a@yahoo.com
INFO ARTIKEL
ABSTRACT
Diterima
18 Desember 2020
Diterima dalam bentuk revisi
12 Januari 2021
Diterima dalam bentuk revisi
This research was conducted with the aim of knowing
and explaining the influence of rupiah exchange rate,
coal production, mineral production on state revenues
instead of mineral and coal sector taxes. The research
method used is explanatory research with quantitative
approach. The data used are rupiah exchange rate, coal
production, mineral production and non-tax state
revenues of the mineral and coal sector in 2015-2019
which are converted in monthly form. The data analysis
used was a multiple linear regression analysis which
showed that R2 of 33.4% which means that the variables
used in this study contributed only 33.4%, while the other
66.6% was determined by other variables not used in this
study. Partially, rupiah exchange rate variables have a
positive but insignificant effect, coal production variables
have a positive and significant effect and mineral
production variables have a negative relationship and
have no significant effect.
ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui
dan menjelaskan pengaruh nilai tukar rupiah, produksi
batubara, produksi mineral terhadap penerimaan negara
bukan pajak sektor mineral dan batubara. Metode
penelitian yang digunakan adalah penelitian penjelasan
(explanatory research) dengan pendekatan kuantitatif.
Data yang digunakan yaitu nilai tukar rupiah, produksi
batubara, produksi mineral dan penerimaan negara bukan
pajak sektor mineral dan batubara tahun 2015-2019 yang
dikonversikan dalam bentuk perbulan. Analisis data yang
digunakan adalah analisis regresi linier berganda yang
menunjukkan bahwa R
2
sebesar 33,4% yang memiliki
arti bahwa variabel-variabel yang digunakan pada
penelitian ini hanya berkontribusi sebesar 33,4%,
Keywords:
rupiah exchange rate; coal
production; mineral
production; non-tax state
revenue from the mineral
sector; coal
Elieser Simangunsong, Mardianto, Maulana Latief Rabbani dan Perlian Fitra Aufa
58 Syntax Admiration, Vol. 2, No. 1, Januari 2021
Kata kunci:
nilai tukar rupiah;
produksi batubara;
produksi mineral;
penerimaan negara bukan
pajak sektor mineral;
batubara
sementara 66,6% lainnya ditentukan oleh variabel lain
yang tidak digunakan dalam penelitian ini. Secara parsial
variabel nilai tukar rupiah berpengaruh positif namun
tidak signifikan, variabel produksi batubara berpengaruh
positif dan signifikan dan variabel produksi mineral
memiliki hubungan yang negatif dan berpengaruh tidak
signifikan.
Pendahuluan
Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi sumber daya alam yang cukup
besar. Salah satu potensi sumber daya alam tersebut adalah batubara. Indonesia
memiliki sumber daya mineral dan batubara sangat besar. Potensi mineral dan batubara
Indonesia berada di posisi nomor 6 terkaya di dunia. Untuk wilayah Asia, posisi mineral
dan batubara Indonesia berada pada posisi nomor 1 (Haryadi, 2011). Batubara
merupakan salah satu bahan bakar fosil yang digunakan untuk berbagai sektor, salah
satunya adalah pembangkit listrik. Sehingga komoditas ini dibutuhkan oleh banyak
negara untuk memenuhi kebutuhan energi di negaranya. Di benua Asia sendiri,
konsumsi atas batubara ini mencapai 65,6% dari konsumsi batubara di dunia (Anindita,
2017). Tingginya konsumsi tersebut menguntungkan Indonesia sebagai negara yang
memiliki kontribusi yang cukup tinggi terhadap pasar batubara internasional.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Setiawan et al., 2020), atas batubara yang
di produksi, baik itu untuk dikonsumsi dalam negeri maupun dilakukan ekspor,
memiliki pengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi.
Indonesia merupakan pengekspor batubara yang sangat besar. Persentase produksi
batu bara yang diekspor adalah sekitar 80 persen (Nugroho, 2017). Dalam lima tahun
terakhir, produksi batubara di Indonesia cenderung selalu mengalami peningkatan setiap
tahunnya. Hal tersebut dapat terlihat dalam grafik 1 yang menunjukkan produksi
batubara di Indonesia beserta jumlah batubara yang digunakan di Indonesia dan jumlah
batubara yang di ekspor. Salah satu yang sangat mempengaruhi tingkat ekspor batubara
Indonesia adalah harga batubara di pasar dunia, harga pasar dunia yang semakin tinggi
akan membuat produsen lebih mengutamakan ekspor (Suseno & Haryadi, 2013).
Grafik 1
Produksi Batubara Nasional Tahun 2015-2019
Sumber : Statistik Mineral dan Batubara, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
Analisis Nilai Tukar Rupiah, Produksi Batubara, Produksi Mineral terhadap Penerimaan
Negara Bukan Pajak Sektor Mineral dan Batubara
Syntax Admiration, Vol. 2, No. 1, Januari 2021 59
Selain dari sektor batubara, produksi mineral dalam lima tahun terakhir juga
mengalami peningkatan. Hal tersebut dapat dilihat dalam grafik 2 yang menunjukan
produksi mineral Indonesia periode tahun 2015-2019. Produk mineral itu terdiri dari
tembaga, emas, perak, timah, produk olahan nikel dan nikel matte. Kenaikan tebesar
terdapat pada jenis mineral produk olahan nikel.
Grafik 2
Produksi Mineral Nasional Tahun 2015-2019
Sumber : Statistik Mineral dan Batubara, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
Sedikit berbeda dengan jumlah produksi, penerimaan negara bukan pajak di sektor
mineral dan batu bara cenderung fluktuatif. Pada grafik 3 yang menunjukkan
penerimaan negara bukan pajak dalam lima tahun terakhir, penerimaan negara bukan
pajak tahun 2019 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Grafik 3
Penerimaan Negara Bukan Pajak Sektor Mineral dan Batubara Tahun 2015-2019
Sumber : Statistik Mineral dan Batubara, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
Berdasarkan penjelasan tersebut, terdapat faktor lain yang mempengaruhi
penerimaan negara bukan pajak sektor mineral dan batu bara. Salah satu faktor yang
dapat mempengaruhi penerimaan negara bukan pajak tersebut yaitu kekuatan nilai tukar
rupiah terhadap dollar Amerika Serikat. Karena, mineral dan batubara yang diproduksi
di Indonesia, selain dikonsumsi di dalam negeri, juga dilakukan ekspor ke negara-
negara importir, khususnya ke negara yang tidak memproduksi batubara. Sementara,
aktivitas jual beli batubara di luar negeri menggunakan mata uang dollar Amerika
Serikat yang bersifat fluktuatif. Sehingga, hal tersebut dapat berpengaruh terhadap
Elieser Simangunsong, Mardianto, Maulana Latief Rabbani dan Perlian Fitra Aufa
60 Syntax Admiration, Vol. 2, No. 1, Januari 2021
permintaan negara importir mineral dan batubara dari Indonesia. Hal tersebut dapat
berpengaruh terhadap aktivitas produksi mineral dan batubara di Indonesia yang juga
akan berpengaruh terhadap jumlah royalti yang diterima oleh negara. Untuk mendukung
pernyataan tersebut, terdapat penelitian yang dilakukan oleh (Ginting, 2013) yang
menyatakan bahwa nilai tukar memberikan pengaruh negatif dan signifikan terhadap
ekspor Indonesia dalam jangka panjang dan pendek. Hal tersebut juga dibuktikan oleh
(Mahendra & Kesumajaya, 2015) yang menyatakan bahwa secara parsial kurs
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap ekspor negara Indonesia tahun 1992-
2012.
Dalam beberapa tahun terakhir, nilai tukar rupiah mengalami fluktuasi yang cukup
tinggi, sehingga berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia (Ismanto et
al., 2019). Hal ini disebabkan oleh faktor kebijakan Bank Indonesia yang menganut
nilai tukar mengambang bebas sejak tahun 1997 (Syarifuddin, 2015) serta faktor suku
bunga yang ditetapkan di suatu negara (Diana, 2020). Fluktuasi tersebut dapat dilihat
pada grafik 4 yang menunjukkan hubungan antara nilai tukar rupiah Indonesia terhadap
dollar Amerika dalam lima tahun terakhir.
Grafik 4
Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah Terhadap US Dollar Tahun 2015-2019
Sumber : Bank Indonesia
Menurut (Mankiw, 2020), ketika nilai tukar rupiah mengalami penguatan, harga
komoditas ekspor akan relatif terlihat lebih mahal dalam pandangan importir dari luar
negeri yang menyebabkan berkurangnya ketertarikan importir tersebut sehingga volume
ekspor dapat menurun. Namun sebaliknya, jika rupiah mengalami pelemahan, harga
komoditas ekspor akan relatif terlihat lebih murah dalam pandangan importir dari luar
negeri yang menyebabkan meningkatnya ketertarikan importir tersebut sehingga volume
ekspor dapat meningkat. Dengan demikian, volume ekspor mineral dan batubara dapat
dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tukar rupiah, sehingga akan mempengaruhi jumlah
produksi mineral dan batubara dalam negeri yang akan berpengaruh juga terhadap
penerimaan negara bukan pajak seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.
Atas dasar tersebut, peneliti melakukan penelitian mengenai hubungan antara
variabel nilai tukar rupiah, produksi batubara, produksi mineral terhadap penerimaan
Analisis Nilai Tukar Rupiah, Produksi Batubara, Produksi Mineral terhadap Penerimaan
Negara Bukan Pajak Sektor Mineral dan Batubara
Syntax Admiration, Vol. 2, No. 1, Januari 2021 61
negara bukan pajak sektor mineral dan batubara. Penelitian ini bertujuan salah satunya
untuk mengetahui seberapa besar pengaruh nilai tukar rupiah terhadap penerimaan
negara bukan pajak. Mengacu pada penelitian yang telah dijelaskan sebelumnya dan
penelitian yang dilakukan oleh (Renata, Almira Herna, Kadarisman Hidayat, 2016),
nilai tukar rupiah memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penerimaan Pajak
Pertambahan Nilai (PPN). Namun, menurut penelitian lain yang dilakukan oleh
(Pratama & Yulianto, 2016) serta (Anindita, 2017), menunjukkan hal yang berbeda,
dimana nilai tukar Rupiah tidak berpengaruh terhadap volume ekspor batubara. Dari
hasil penelitian tersebut, peneliti ingin mengetahui hal yang kurang lebih sama namun
dengan lingkup penelitian yang berbeda. Fokus utama dalam penelitian ini adalah
penerimaan negara bukan pajak sektor mineral dan batubara, sehingga penelitian ini
akan memberikan hasil yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Selain itu, penelitian
ini juga bertujuan untuk melihat seberapa besar pengaruh volume produksi mineral dan
batubara terhadap penerimaan negara bukan pajak sektor mineral dan batubara.
Penelitian yang dilakukan oleh (Sulaksono, 2014) menunjukkan bahwa produksi
batubara berpengaruh positif terhadap PDRB sektor pertambangan di Indonesia. Hal
tersebut memiliki arti bahwa terdapat pertumbuhan ekonomi yang akan berpengaruh
positif terhadap penerimaan pajak sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh
(Hidayatullah, 2016). Se hingga, atas hasil penelitian tersebut, peneliti juga ingin
mengetahui bagaimana pengaruh produksi tersebut terhadap objek yang mirip, dalam
hal ini yaitu penerimaan negara bukan pajak sektor mineral dan batubara.
Metode Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah explanatory research.
Menurut Umar dalam (Hartono, 2018), explanatory research atau disebut juga
penelitian eksplanatori, merupakan penelitian yang menganalisis bagaimana pengaruh
suatu variabel terhadap variabel lain. Lalu, pendekatan yang digunakan dalam penelitian
ini yaitu menggunakan penelitian kuantitatif.
Populasi dalam penelitian ini adalah data nilai tukar rupiah, volume produksi
batubara, volume produksi mineral dan penerimaan negara bukan pajak dari sektor
mineral dan batubara untuk setiap bulan dalam kurun waktu tahun 2015-2019. Sehingga
data yang digunakan di dalam penelitian ini memiliki 60 pengamatan. Sampel yang
digunakan dalam penelitian ini diambil dengan teknik sampling jenuh, yaitu dengan
menggunakan seluruh data populasi sebagai data sampel.
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode
dokumentasi dan studi kepustakaan. Data yang dikumpulkan merupakan data primer
yang diperoleh langsung dari instansi terkait. Data produksi batubara, produksi mineral
dan data penerimaan negara bukan pajak sektor mineral dan batubara didapat dari
Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara melalui situs resmi instansi bersangkutan.
Sementara itu untuk data nilai tukar r upiah menggunakan data rata-rata Jakarta
Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia.
Elieser Simangunsong, Mardianto, Maulana Latief Rabbani dan Perlian Fitra Aufa
62 Syntax Admiration, Vol. 2, No. 1, Januari 2021
Seluruh data yang diperoleh untuk penelitian ini diolah menggunakan analisis
regresi linear berganda. Analisis linier berganda merupakan analisis yang digunakan
untuk menguji hubungan antara variabel-variabel bebas, yaitu nilai tukar Rupiah,
produksi batubara dan produksi mineral, terhadap variabel terikat yaitu jumlah
Penerimaan Negara Bukan Pajak Sektor Mineral dan Batubara. Persamaan dari model
regresi linear berganda ini adalah sebagai berikut.
Keterangan :
Y : Jumlah Penerimaan Negara Bukan Pajak Sektor Mineral dan Batubara
: Nilai Tukar Rupiah (Rupiah/USD)
: Volume Produksi Batubara (Juta Ton/Bulan)
: Volume Produksi Mineral (Juta Ton/Bulan)
: Intersep
: Koefisien Regresi
Atas keseluruhan data yang telah diolah menggunakan regresi linier berganda,
dilakukan pengujian hipotesis yang meliputi tiga jenis pengujian, diantaranya:
1. Uji Signifikan Parsial (Uji t)
Merupakan pengujian yang dilakukan untuk mengetahui bagaimana pengaruh
dari masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat. Pengujian ini dilakukan
dengan membandingkan t hitung dengan t tabel berdasarkan output aplikasi statistik.
Suatu variabel dinyatakan berpengaruh secara parsial apabila hasil dari t hitung
lebih besar dari t tabel.
2. Uji Signifikan Simultan (Uji F)
Merupakan pengujian yang dilakukan untuk mengetahui bagaimana pengaruh
dari seluruh variabel bebas terhadap variabel terikat secara simultan. Pengujian ini
dilakukan dengan membandingkan F hitung dengan F tabel berdasarkan output
aplikasi statistik. Keseluruhan variabel dinyatakan berpengaruh secara simultan
apabila hasil dari F hitung lebih besar dari F tabel.
3. Uji Koefisien Determinasi (R
2
)
Merupakan pengujian yang dilakukan untuk mengetahui seberapa besar
kontribusi variabel-variabel bebas terhadap variabel terikat.
Hasil dan Pembahasan
A. Analisis Regresi Linier Berganda
Penelitian ini menggunakan model regresi linier berganda untuk mengetahui
seberapa besar pengaruh variabel-variabel bebas yang terdiri dari nilai tukar Rupiah
(X
1
), produksi batubara (X
2
), dan produksi mineral (X
3
) terhadap variabel terikat
Analisis Nilai Tukar Rupiah, Produksi Batubara, Produksi Mineral terhadap Penerimaan
Negara Bukan Pajak Sektor Mineral dan Batubara
Syntax Admiration, Vol. 2, No. 1, Januari 2021 63
yaitu penerimaan negara bukan pajak (Y). Dengan menggunakan bantuan PASW
18.0 didapat model regresi seperti pada Tabel 1:
Tabel 1 Hasil analisis Regresi Linear
Coefficients
a
Model
Unstandardized
Coefficients
Standa
rdized
Coeffi
cients
t
Sig.
B
Std.
Error
Beta
(Constant)
-5.383972
2.812
-1.916
.060
Kurs
.000467
.000
.279
1.938
.058
Pro_BB
.051320
.025
.358
2.034
.047
Pro_Min
-.057607
2.549
-.003
-.020
.984
Sumber: Data primer diolah
Berdasarkan Tabel 1, didapatkan persamaan model regresi linier sebagai
berikut:
Dari persamaan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Konstanta
Konstanta pada persamaan tersebut menunjukkan angka -5,3893972. Hal
tersebut memiliki arti bahwa jika seluruh variabel bebas, yaitu nilai tukar
Rupiah, produksi batubara, dan produksi mineral tidak mengalami perubahan
maka Penerimaan Negara Bukan Pajak Sektor Mineral dan Batubara akan
berkurang sebesar 5,3893972 poin.
2. Koefisien Variabel X
1
(Nilai Tukar Rupiah)
Koefisien variabel nilai tukar Rupiah pada persamaan adalah sebesar
0,000467. Hal ini menunjukkan bahwa nilai tukar Rupiah memiliki hubungan
yang positif dan berpengaruh terhadap Penerimaan Negara Bukan Pajak Sektor
Mineral dan Batubara namun tidak signifikan. Setiap 1% pelemahan yang terjadi
pada nilai tukar Rupiah akan mengakibatkan kenaikan Penerimaan Negara
Bukan Pajak Sektor Mineral dan Batubara sebesar 0,000467 dengan asumsi
variabel bebas lain dianggap konstan. Begitupun sebaliknya, setiap 1%
penguatan yang terjadi pada nilai tukar Rupiah akan mengakibatkan penurunan
Penerimaan Negara Bukan Pajak Sektor Mineral dan Batubara sebesar
0,000467.
Elieser Simangunsong, Mardianto, Maulana Latief Rabbani dan Perlian Fitra Aufa
64 Syntax Admiration, Vol. 2, No. 1, Januari 2021
3. Koefisien Variabel X
2
(Produksi Batu Bara)
Koefisien variabel produksi batubara pada persamaan adalah sebesar
0,051320. Koefisien ini menunjukkan bahwa produksi batubara memiliki
hubungan yang positif dan berpengaruh terhadap Penerimaan Negara Bukan
Pajak Sektor Mineral dan Batubara secara signifikan. Setiap 1% kenaikan yang
terjadi pada produksi batubara akan mengakibatkan kenaikan Penerimaan
Negara Bukan Pajak Sektor Mineral dan Batubara sebesar 0,051320 dengan
asumsi variabel bebas lain dianggap konstan. Begitupun sebaliknya, setiap 1%
penurunan yang terjadi pada produksi batubara akan mengakibatkan penurunan
Penerimaan Negara Bukan Pajak Sektor Mineral dan Batubara sebesar
0,051320.
4. Koefisien Variabel X
3
(Produksi Mineral)
Koefisien variabel produksi mineral pada persamaan adalah sebesar -
0,057607. Koefisien ini menunjukkan bahwa produksi batubara memiliki
hubungan yang negatif dan berpengaruh terhadap Penerimaan Negara Bukan
Pajak Sektor Mineral dan Batubara namun secara tidak signifikan. Setiap 1%
kenaikan yang terjadi pada produksi batubara akan mengakibatkan penurunan
Penerimaan Negara Bukan Pajak Sektor Mineral dan Batubara sebesar 0,057607
dengan asumsi variabel bebas lain dianggap konstan. Begitupun sebaliknya,
setiap 1% penurunan yang terjadi pada produksi batubara akan mengakibatkan
kenaikan Penerimaan Negara Bukan Pajak Sektor Mineral dan Batubara sebesar
0,051320.
B. Hasil Uji Hipotesis
1. Hasil Uji Signifikan Parsial (Uji t)
a. Hasil Uji Hipotesis 1: Nilai Tukar Rupiah
Dari hasil pengolahan data menggunakan PASW yang tertuang dalam
tabel 1, diperoleh t hitung sebesar 1,938. Dengan tingkat signifikansi kurang
dari 0,05, hasil pengujian variabel nilai tukar Rupiah memberikan hasil t
hitung < t tabel (1,938 < 1,96), sehingga dapat diambil kesimpulan H
0
gagal
ditolak. Hal tersebut memiliki arti bahwa nilai tukar Rupiah tidak
berpengaruh secara signifikan terhadap Penerimaan Negara Bukan Pajak
Sektor Mineral dan Batubara.
b. Hasil Uji Hipotesis 2: Produksi Batubara
Berdasarkan tabel 1, diketahui t hitung untuk variabel produksi
batubara adalah sebesar 2,034. Dengan tingkat signifikansi kurang dari 0,05,
hasil pengujian variabel produksi batubara memberikan hasil t hitung > t
tabel (2,034 > 1,96), sehingga dapat diambil kesimpulan H
0
ditolak dan H
2
diterima. Hal tersebut memiliki arti bahwa produksi batubara berpengaruh
Analisis Nilai Tukar Rupiah, Produksi Batubara, Produksi Mineral terhadap Penerimaan
Negara Bukan Pajak Sektor Mineral dan Batubara
Syntax Admiration, Vol. 2, No. 1, Januari 2021 65
secara signifikan terhadap Penerimaan Negara Bukan Pajak Sektor Mineral
dan Batubara.
c. Hasil Uji Hipotesis 3: Produksi Mineral
Berdasarkan tabel 1, diketahui t hitung untuk variabel produksi mineral
adalah sebesar -0,020. Dengan tingkat signifikansi kurang dari 0,05, hasil
pengujian variabel produksi batubara memberikan hasil t hitung < t tabel (-
0,020 < 1,96), sehingga dapat diambil kesimpulan H
0
gagal ditolak. Hal
tersebut memiliki arti bahwa produksi mineral tidak berpengaruh secara
signifikan terhadap Penerimaan Negara Bukan Pajak Sektor Mineral dan
Batubara.
2. Hasil Uji Signifikan Simultan (Uji F)
Uji simultan atau uji F digunakan untuk mengetahui apakah variabel bebas
yang meliputi nilai tukar Rupiah, produksi batubara, produksi mineral
berpengaruh signifikan secara bersama-sama terhadap variabel terikat yaitu
Penerimaan Negara Bukan Pajak Sektor Mineral dan Batubara.
Tabel 2 Hasil Uji Bersamaan (Uji F)
Sumber: data primer diolah
Berdasarkan tabel tabel 2, diketahui F hitung sebesar 9,342. Dengan
tingkat signifikansi kurang dari 0,05, hasil pengujian keseluruhan variabel bebas
memberikan hasil F hitung > F tabel (9,342 > 2,76), sehingga dapat diambil
kesimpulan H
0
ditolak dan H
4
diterima. Hal tersebut memiliki arti bahwa nilai
tukar Rupiah, produksi batubara dan produksi mineral secara simultan
berpengaruh signifikan terhadap Penerimaan Negara Bukan Pajak Sektor
Mineral dan Batubara.
3. Hasil Uji Koefisien Determinasi (R
2
)
Koefisien Determinasi (R
2
) dalam regresi linear berganda digunakan untuk
mengetahui besar kontribusi variabel-variabel independen terhadap variabel
dependen. Nilai koefisien determinasi yang digunakan adalah nilai koefisien
ANOVA
b
Model
Sum of
Squares
Df
Mean
Square
F
Sig.
1
Regr
essio
n
15.396
3
5.132
9.342
.000
a
Resi
dual
30.762
56
.549
Total
46.158
59
Elieser Simangunsong, Mardianto, Maulana Latief Rabbani dan Perlian Fitra Aufa
66 Syntax Admiration, Vol. 2, No. 1, Januari 2021
determinasi yang digunakan nilai R
2
. Selain koefisien determinasi, juga didapat
koefisien korelasi (R) yang menunjukkan besarnya hubungan antara variabel
bebas dengan variabel terikat. Hasilnya pada tabel berikut.
Tabel 3 Hasil Uji R
2
Model
R
R
Square
Adjusted
R
Square
Std.
Error of
the
Estimate
1
.578
a
0.334
0.298
0.74116
Sumber: data primer diolah
Hasil pengujian R sebagaimana tabel 3 menunjukkan nilai 0,578. Hal
tersebut memiliki arti bahwa antara variabel bebas dengan variabel terikat
memiliki hubungan yang sedang. Sementara itu, hasil pengujian R
2
menunjukkan nilai 0,334 atau 33,4%. Angka tersebut memiliki arti bahwa
variabel-variabel yang digunakan pada penelitian ini hanya berkontribusi sebesar
33,4%, sementara 66,6% lainnya ditentukan oleh variabel lain yang tidak
digunakan dalam penelitian ini.
Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, terdapat temuan yang mendukung hasil
penelitian sebelumnya dan juga terdapat temuan baru yang belum pernah ditemukan
pada penelitian sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel nilai tukar
rupiah, volume produksi batubara, dan volume produksi mineral secara bersamaan
memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap penerimaan negara bukan pajak
sektor mineral dan batu bara. Namun, secara parsial, variabel-variabel tersebut memiliki
pengaruh yang berbeda-beda. Pertama, nilai tukar tidak memberikan kontribusi
signifikan terhadap penerimaan negara bukan pajak sektor mineral dan batubara.
Sehingga meskipun terjadi fluktuasi nilai tukar rupiah, hal tersebut tidak akan
berpengaruh besar terhadap jumlah penerimaan negara bukan pajak. Kedua, produksi
batubara memberikan kontribusi yang signifikan dan setiap kenaikannya akan
menaikkan jumlah penerimaan negara bukan pajak sektor mineral dan batubara. Ketiga,
produksi mineral memberikan kontribusi yang signifikan namun setiap kenaikannya
akan menurunkan jumlah penerimaan negara bukan pajak sektor mineral dan batubara.
Analisis Nilai Tukar Rupiah, Produksi Batubara, Produksi Mineral terhadap Penerimaan
Negara Bukan Pajak Sektor Mineral dan Batubara
Syntax Admiration, Vol. 2, No. 1, Januari 2021 67
BIBLIOGRAFI
Anindita, T. (2017). Analisis Pengaruh Kurs Usd, Harga Batubara Acuan, dan Volume
Produksi terhadap Volume Ekspor Pada PT. Bukit Asam (Persero) Tbk. Jurnal
Manajemen Industri Dan Logistik, 1(2), 111120.
Diana, I. K. A. dan N. P. M. D. (2020). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Nilai Tukar Rupiah atas Dolar Amerika Serikat di Indonesia. Ekonomi, 9(8), 1631
1661.
Ginting, A. M. (2013). Pengaruh Nilai Tukar terhadap Ekspor Indonesia. Buletin Ilmiah
Litbang Perdagangan, 7(1), 118.
Hartono, J. (2018). Strategi Penilaian Bisnis. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Haryadi, H. (2011). Analisis Peranan Mineral dan Batubara bagi Perekonomian
Nasional. Jurnal Teknologi Mineral Dan Batubara, 7(3), 122136.
Hidayatullah, S. R. W. (2016). Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Realisasi
Penerimaan Pajak Di Indonesia (Penelitian pada Badan Pusat Statistik).
Universitas Widyatama.
Ismanto, B., Kristini, M. A., & Rina, L. (2019). Pengaruh Kurs dan Impor Terhadap
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Periode Tahun 2007-2017. Ecodunamika, 2(1).
Mahendra, I. G. Y., & Kesumajaya, I. W. W. (2015). Analisis Pengaruh Investasi,
Inflasi, Kurs Dollar Amerika Serikat dan Suku Bunga Kredit terhadap Ekspor
Indonesia Tahun 1992-2012. E-Jurnal Ekonomi Pembangunan Universitas
Udayana, 4(5), 44541.
Mankiw, N. G. (2020). Brief Principles of Macroeconomics. Cengage Learning: New
York.
Nugroho, H. (2017). Coal as the National Energy Supplier Forward: What are Policies
to be Prepared? The Indonesian Journal of Development Planning, 1(1), 113.
Pratama, D., & Yulianto, E. (2016). Analisis Nilai Tukar Rupiah, Produksi Batubara,
Permintaan Batubara dalam Negeri dan Harga Batubara Acuan terhadap Volume
Ekspor Batubara Indonesia (Studi|| pada Ekspor Batubara Indonesia Tahun| 2005-
2014). Jurnal Administrasi Bisnis, 33(2), 145153.
Renata, Almira Herna, Kadarisman Hidayat, dan B. K. (2016). Pengaruh Inflasi, Nilai
Tukar Rupiah dan Jumlah Pengusaha Kena Pajak terhadap Penerimaan Pajak
Pertambahan Nilai (Studi pada Kantor Wilayah DJP Jawa Timur I). Ekonomi, 9(1),
19.
Setiawan, A., Wibowo, A. P., & Rosyid, F. A. (2020). Analisis Pengaruh Ekspor dan
Konsumsi Batubara terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia. Jurnal Teknologi
Elieser Simangunsong, Mardianto, Maulana Latief Rabbani dan Perlian Fitra Aufa
68 Syntax Admiration, Vol. 2, No. 1, Januari 2021
Mineral Dan Batubara, 16(2), 109124.
Sulaksono, A. (2014). Pengaruh Produksi Batubara terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan
Kesejahteraan Masyarakat pada Era Otonomi Daerah di Indonesia. Jurnal
Penelitian. Universitas Gunadarma.
Suseno, T., & Haryadi, H. (2013). Analisis Kebijakan Pengendalian Produksi Batubara
Nasional dalam Rangka Menjamin Kebutuhan Energi Nasional. Jurnal Teknologi
Mineral Dan Batubara, 9(1), 2334.
Syarifuddin, F. (2015). Konsep, Dinamika, dan Respon Kebijakan Nilai Tukar di
Indonesia. Bank Indonesia Institute.