Jurnal Syntax Admiration

Vol. 3 No. 11 November 2022

p-ISSN : 2722-7782 e-ISSN : 2722-5356

Sosial Teknik

 

ANALISIS PERBANDINGAN EFISIENSI PANEL SURYA 55 WATT DENGAN TRACKING DAN TANPA TRACKING

 

Mustofa Kamil Rahman

Fakultas Teknik, Universitas Negeri Jakarta, Indonesia

Email: [email protected]

INFO ARTIKEL

ABSTRAK

Diterima

03 Oktober 2022

Direvisi

20 November 2022

Disetujui

21 November 222

Potensi energi terbarukan di Indonesia sangatlah banyak, seperti panas bumi, tenaga air, biomasa, surya dan angin yang ramah lingkungan, namun sejauh ini penggunaan energi tersebut belum maksimal. Dengan segala potensi energi terbarukan yang ada di Indonesia energi matahari adalah salah satu sumber energi yang dapat diperbaharui dan dapat dikonversikan menjadi energi listrik dengan menggunakan panel surya.� Dengan metode penelitian Research and Development. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tracking terhadap kinerja panel surya dan mengetahui efisiensi panel surya yang menggunakan tracking dan yang tidak menggunakan tracking supaya dapat mengoptimalkan sumber energi matahari. Dari data yang sudah diambil panel surya dengan solar tracker memiliki efisiensi rata � rata sebesar 5.6% sedangkan panel surya tanpa solar tracker memiliki efisiensi rata � rata sebesar 5.1 %. Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa efisiensi dengan solar tracker lebih besar dibanding tanpa solar tracker.

Kata kunci:

Potensi Energi Terbarukan, Panel Surya, Solar Tracker.

 

Keywords:

Renewable Energi Potential, Solar Panels, Solar Tracker.

ABSTRACT

The potential for renewable energi in Indonesia is very much, such as geothermal, hydropower, biomass, solar and wind that are environmentally friendly, but so far the use of this energi has not been maximized. With all the potential for renewable energi in Indonesia, solar energi is one source of renewable energi that can be converted into electrical energi using solar panels. With Research and Development research methods. This study aims to determine the effect of tracking on the performance of solar panels and determine the efficiency of solar panels that use tracking and those that do not use tracking in order to optimize solar energi sources. From the data that has been taken, solar panels with a solar tracker have an average efficiency of 5.6% while solar panels without a solar tracker have an average efficiency of 5.1%. Thus, it can be concluded that the efficiency with a solar tracker is greater than without a solar tracker.

 

 

Pendahuluan

Peningkatan populasi di Indonesia dan peningkatan kinerja ekonomi membuat meningkatnya permintaan energi terutama pada kegiatan ekonomi (Santi & Sasana, 2021). Keterbatasan sumber daya energi fosil menjadi permasalahan berbagai negara, hal ini juga yang membuat meningkatnya emisi dari gas yang dapat merusak lingkungan. Sehingga dibutuhkannya efisiensi pada suatu alat dalam memaksimalkan potensi alam yang dimiliki oleh Indonesia.

Indonesia berada digaris katulistiwa yang mempunyai banyak sekali sumber energi surya yang berlimpah dengan intensitas radiasi sinar matahari sekitar 4.8 kWh/m2 per hari di wilayah � wilayah Indonesia (Yusfa, 2017). jika dibandingkan dengan luasan lahan di Indonesia. Intensitas radiasi matahari di luar atmosfer bumi bergantung pada jarak antara matahari dengan bumi (Aldrian et al., 2011). Tiap tahun, jarak ini bervariasi antara 1,47 x 108 km dan 1,52 x 108 km dan hasilnya besar pancaran E0 naik turun antara 1325 W/m2 sampai 1412 W/m2. Nilai rataratanya disebut sebagai konstanta matahari dengan nilai E0 = 1367 W/m2 (Rahardjo & Fitriana, 2005).

Khusus untuk energi matahari, keberadaannya cukup potensial di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari posisi astronomi negara Indonesia di peta dunia (Sitorus, 2018). Dengan letak Indonesia yang berada pada daerah khatulistiwa, yaitu pada lintang 6� Lintang Utara (LS) - 11� Lintang Selatan (LS) dan 95� Bujur Timur (BT) - 141� Bujur Timur, dan dengan memperhatikan peredaran matahari dalam setahun yang berada pada daerah 23,5� LU dan 23,5� LS maka wilayah Indonesia akan selalu disinari matahari selama 10 - 12 jam dalam sehari. Karena letak Indonesia berada pada daerah khatulistiwa maka Indonesia memiliki tingkat radiasi matahari yang cukup baik. Menurut data buku putih energi Indonesia (Sitorus et al., 2014).

Dengan segala potensi energi terbarukan yang ada di Indonesia energi matahari adalah salah satu sumber energi yang dapat diperbaharui dan dapat dikonversikan menjadi energi listrik dengan menggunakan panel surya (Priatam et al., 2021). Besarnya energi listrik yang dikonversikan dari energi matahari tergantung seberapa besar intensitas matahari yang di terima oleh panel surya. hal ini menunjukan bahwa panel surya harus selalu berhadapan dengan matahari untuk mendapatkan efisiensi yang maksimal (Soedjarwanto & Zebua, 2015).

Lama penyinaran matahari merupakan satu dari beberapa unsur klimatologi. Lama penyinaran matahari atau durasi penyinaran matahari (periodisitas) adalah lamanya matahari bersinar cerah pada permukaan bumi yang dihitung mulai dari matahari terbit hingga terbenam (Anna, 2021). Besarnya lama penyinaran matahari ditulis dalam satuan jam, nilai persepuluhan, atau dalam satuan persen terhadap panjang hari maksimum (Pujiastuti & Harjoko, 2016). Menurut Badan Pusat Statistika Indonesia, pada tahun 2015 penyimpanan sinar matahari DKI Jakarta sebesar 60,12% dan tekanan udara sebesar 1011,00 mb dan pada bulan Juni 2019 rata � rata tekanan udara sebesar 1 009,7 mb dan lama penyinaran Matahari sebesar 62,8 Jam.

Dari bagian atas atmosfer mengirim 174 petawatt (PW) radiasi surya yang diterima oleh bumi dan kemudian sekitar 30% dipantulkan Kembali keluar angkasa, sedangkan sisanya diserap oleh daratan, lautan dan awan. Sebagian besar sinar matahari yang diterima oleh permukaan bumi berada pada jangkauan spektrum sinar tampak dan inframerah dekat. Dan Sebagian kecilnya pada rentang ultraviolet dekat (Ibrahim, 2020). Pada saat siang hari yang cerah radiasi sinar matahari mampu mencapai 1000 W/m2. Jika sebuah perangkat semikonduktor seluas 1 m2 memiliki efisiensi sekitar 10%, maka modul sel surya ini bisa menghasilkan tenaga listrik sekitar 100 watt. Modul sel surya komersial biasanya memiliki efisiensi berkisar antara 5% hingga 15% tergantung material penyusunnya (Yuliananda et al., 2015).

Semakin besar intensitas cahaya matahari yang ditangkap oleh panel surya, maka semakin besar daya listrik yang dihasilkan, oleh karena itu perlu dibuat suatu sistem yang dapat membuat solar cell selalu mengikuti arah pergerakan matahari yaitu dengan solar tracking (Fauzi et al., 2018). Biasanya panel surya dipasang permanen dengan kondisi statis dengan sudut elevasi yang tetap. Hal ini membuat panel surya tidak dapat terkonversi dengan maksimal karena matahari selalu bergerak (Duha, 2021). Penyerapan radiasi matahari akan maksimal jika arah radiasi matahari tegak lurus dengan permukaan bidang panel surya. Oleh karena itu, diperlukan upaya agar matahari bisa tegak lurus dengan bidang panel surya agar bisa mendapatkan hasil yang maksimal (Syafrialdi, 2015).

Permasalahan yang berkembang saat ini adalah kurang optimum dan efisiennya pada panel surya yang masih bersifat statis, hal ini masih kurang optimal dalam penerimaan energi matahari. Disisi lain energi alam akan sangat sulit diprediksi besaran yang diterima oleh panel surya, terlebih perbedaan lama penyinaran matahari dan faktor lain seperti suhu, intensitas cahaya, sudut datang cahaya juga mempengaruhi daya yang akan dihasilkan oleh panel surya. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah system atau alat yang dapat melacak pemaksimalan energi matahari dengan mengikuti arah matahari.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tracking terhadap kinerja panel surya dan mengetahui efisiensi panel surya yang menggunakan tracking dan yang tidak menggunakan tracking.

 

Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode R&D (Research and Development). Metode penelitian dan pengembangan adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut. Penelitian ini dilakukan pad bulan Juni 2021 di Rooftop Gedung H Fakultas Teknik, Universitas Negeri Jakarta. Data hasil uji coba dikumpulkan dan dilakukan perhitungan serta analisa data untuk mengetahui apakah alat sudah bekerja sesuai dengan spesifikasi dan dapat bekerja sesuai kebutuhan atau tidak. Setelah itu dilakukan penyusunan laporan sebagai bahan evaluasi keberhasilan dari pembuatan alat Solar tracker.

 

Hasil dan Pembahasan

Pengujian pada panel surya ini dilakukan 2 tahap, yaitu panel surya yang dirancang tanpa solar tracker dan panel surya yang dirancang dengan solar tracker. Pengujian panel surya yang dirancang tanpa solar tracker, dengan cara membuat solar cell menghadap ke atas tidak mengikuti arah cahaya matahari, pada pengujian ini panel surya diletakan pada sudut 0�.

A.  Analisa perhitungan

1.    Hasil Perhitungan Daya Panel Surya dengan Solar tracker

 

 

 

 

Tabel 1

data hasil pengujian solar tracker

Data hasil pengujian

Data hasil Perhitungan

Sudut

Jam

Arus (A)

Tegangan (V)

Radiasi (W/m2)

Daya (W)

Efisiensi (%)

- 45�

09.00

1.41

8.17

527

11,5197

4.8787

 

09.30

1.64

8.26

567

13,5464

5.3323

 

10.00

1.80

8.43

589

15,174

5.75

 

10.30

2.25

8.74

634

19,665

6.9227

 

11.00

2.61

9.07

753

23,6727

7.0166

0�

11.30

2.69

9.13

782

24,5597

7.0095

 

12.00

3.02

9.42

1059

28,4484

6.09

 

12.30

2.12

8.57

691

18,1684

5.8683

 

13.00

1.34

7.84

517

10,5556

4.5353

45�

13.30

1.12

7.48

421

8,3776

4.4413

 

14.00

0.98

7.40

378

7,252

4.2819

 

14.30

1.13

7.48

448

8,4524

4.2109

 

15.00

1.19

7.53

451

8,9607

4.4344

Rata � rata

1.89848

8.36424

621.909

16,3626

5.613

 

Setelah diketahui data � data tersebut lalu dimasukan pada tahap perhitungan:

a.    penghitungan daya:

P = V � I

P = 1.41 � 8.17

P = 11,5197 Watt

b.   perhitungan efisiensi solar tracker:

�

Dari perhitungan diatas didapat efisiensi yang dihasilkan oleh panel surya dengan solar tracker pada jam 09.00 sebesar 4.8787 %.

 

Gambar 1

Grafik Radiasi Solar Tracker

 

Gambar 2

Grafik Daya Solar Tracker

 

2.    Hasil Perhitungan Daya Panel Surya tanpa Solar tracker

 

Tabel 2

Data Hasil Pengujian tanpa Solar tracker

Data Hasil Pengujian

Data Hasil Perhitungan

Sudut

Jam

Arus (A)

Tegangan (V)

Radiasi (W/m2)

Daya (W)

Efisiensi (%)

0�

09.00

0.56

7.21

235

4,0376

3.8347

 

09.30

0.95

7.80

351

7,41

4.7118

 

10.00

1.67

8.74

520

14,5958

5.8908

 

10.30

1.98

8.65

573

17,127

6.6711

 

11.00

2.34

8.90

628

20,826

7.4015

0�

11.30

2.62

9.11

776

23,8682

6.8648

 

12.00

3.01

9.42

1020

28,3542

6.2042

 

12.30

2.00

8.49

662

16,98

5.7247

 

13.00

1.12

7.48

435

8,3776

4.2984

0�

13.30

0.91

7.41

374

6,7431

4.024

 

14.00

0.65

7.25

267

4,7125

3.9392

 

14.30

0.56

7.21

247

4,0376

3.6484

 

15.00

0.37

7.09

197

2,6233

2.972

Rata - rata

1.58

8.1797

540.182

26,4095

5.1221

 

Setelah diketahui data � data tersebut lalu dimasukan pada tahap perhitungan:

a.    penghitungan daya :

P = V � I

P = 7.21 � 0.56

P = 4,0376 Watt

b.    efisiensi yang didapat panel surya dengan sudut fix 0�

 

Dari perhitungan diatas didapat efisiensi yang dihasilkan panel surya tan pa solar tracker di jam 09.00 sebesar 3.8347 %.

 

Gambar 3

Grafik Radiasi Tanpa Solar Tracker

 

Gambar 4

Grafik Daya Tanpa Solar Tracker

 

B.  Faktor yang Memperngaruhi Proses Pengujian

1.    Sudut

Sudut azimuth (azimuth angle) dan sudut kemiringan (tilt angle) merupakan salah satu faktor paling penting dalam proses penelitian ini untuk mengetahui nilai sudut kemiringan (β) yang ideal agar panel surya mendapat intensitas maksimal. Untuk mendapatkan sudut kemiringan (β) ada beberapa sudut lain yang harus diketahui terlebih dahulu agar bisa mencari nilai sudut kemiringan (β). Sudut � sudut itu antara lain: sudut deklinasi (δ), sudut jam matahari (ω), sudut zenith (𝜃z) dan sudut azimuth matahari (ϒs). Pada sudut deklinasi, nilai nya dipengaruhi oleh jumlah hari pada bulan (n).

Kebetulan pada penelitian ini, sudut dihitung pada bulan Juni dengan nilai n sebesar 152. Untuk sudut jam matahari (ω) dipengaruhi oleh waktu saat meneliti. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan data yaitu pada pukul 09.00 � 15.00 untuk menentukan besar nya sudut jam matahari (ω). Lalu untuk sudut zenith (𝜃z), nilai nya dipengaruhi oleh latitude daerah yang sedang di teliti. Peneliti melakukan penelitian di Universitas Negeri Jakarta dengan besar latitude yaitu - 6,1931. Dapat dilihat tabel 3. menunjukkan perhitungan sudut.

 

Tabel 3

Perhitungan sudut

Jam 09.00

Jam 10.00

δ = 23,45 �sin360 284 � 152

365

δ = 23,1��������

δ = 23,45 �sin360 284 � 152

365

δ = 23,1�

ω = (9 12) x 360

24

ω = -45�

ω = (10 12) x 360

24

ω = -30�

𝜃z = cos−1(cos -6,1931. cos 23,1�. cos(-45) + sin -6,1931. sin cos 23,1�)

𝜃z = 52.82�

𝜃z = cos−1(cos -6,1931. cos 23,1�. cos(-30) + sin -6,1931. sin cos 23,1�)

𝜃z = 41,44�

ϒs = sin−1 (sin −45 cos 23,1� )

sin 52.82

ϒs = -55,04�

ϒs = sin−1 (sin −30 cos 23,1�)

sin 41,44

𝛽 = tan−1(tan 52.82 . cos -55,04)

𝛽 = 36,77�

𝛽 = tan−1(tan 41,44 . cos -44,01)

𝛽 = 32,41�

Jam 11.00

Jam 12.00

δ = 23,45 �sin360 284 � 152

365

δ = 23,1�

δ = 23,45 �sin360 284 � 152

365

δ = 23,1�

ω = (11 12) x 360

24

ω = -15�

ω = (12 12) x 360

24

ω = 0�

𝜃z = cos−1(cos -6,1931. cos 23,1�. cos(-15) + sin -6,1931. sin cos 23,1�)

𝜃z = 32,75�

𝜃z = cos−1(cos -6,1931. cos 23,1�. cos(0) + sin -6,1931. sin cos 23,1�)

𝜃z = 29,29�

ϒs = sin−1 (sin −15 .cos 23,1� )

sin 32,75�

ϒs = -26,10�

ϒs = sin−1 (sin 0 .cos 23,1� )

sin 29,29�

ϒs = 0�

𝛽 = tan−1(tan 32,75�. cos -26,10�)

𝛽 = 30,01�

𝛽 = tan−1(tan 29,29�. cos 0)

𝛽 = 29,29�

Jam 13.00

Jam 14.00

δ = 23,45 �sin360 284 � 152

365

δ = 23,1�

δ = 23,45 �sin360 284 � 152

365

δ = 23,1�

ω = (13 12) x 360

24

ω = 15�

ω = (14 12) x 360

24

ω = 30�

𝜃z = cos−1(cos -6,1931. cos 23,1�. cos(15�) + sin -6,1931. sin cos 23,1�)

𝜃z = 32,75�

𝜃z = cos−1(cos -6,1931. cos 23,1�. cos(30�) + sin -6,1931. sin cos 23,1�)

𝜃z =41,44�

ϒs = sin−1 (sin 15� cos 23,1� )

sin 32,75�

ϒs = 26,10�

ϒs = sin−1 (sin 30� cos 23,1� )

sin 41,44�

ϒs = 44,01�

𝛽 = tan−1(tan 32,75� . cos 26,75�)

𝛽 = 30,01�

𝛽 = tan−1(tan 52.82 . cos -55,04)

𝛽 = 32,41�

Jam 15.00

 

δ = 23,45 �sin360 284 � 152

365

δ = 23,1�

 

ω = (15 12) x 360

24

ω = 45

 

𝜃z = cos−1(cos -6,1931. cos 23,1�. cos(45) + sin -6,1931. sin cos 23,1�) 𝜃z

= 52.82�

 

ϒs = sin−1 (sin 45 cos 23,1� )

sin 52.82

ϒs = 55,04

 

𝛽 = tan−1(tan 52.82 . cos -55,04)

𝛽 = 36,77

 

 

Dari hasil perhitungan tersebut, dapat diketahui bahwa nilai sudut deklinasi tidak berubah yaitu sebesar 23,1�. Sudut deklinasi akan berubah jika menghitung nya di bulan yang berbeda. Lain hal nya dengan sudut jam matahari yang nilai setiap jam nya berubah. Sebelum pukul 12.00 nilai sudut jam matahari bernilai negatif, sedangkan setelah pukul 12.00 bernilai positif. Namun saat tepat pukul 12.00 sudut bernilai 0�.

Untuk nilai sudut zenith pada pukul 09.00 sama dengan pukul 15.00, pukul 10.00 sama dengan saat pukul 14.00 dan pukul 11.00 sama dengan saat pukul 13.00 yaitu sebesar 52,82�,41,44� dan 32,75� sedangkan sudut zenith pada pukul 12.00 sebesar 29,29�. Nilai dari sudut zenith tersebut akan dipakai untuk mendapatkan sudut azimuth matahari dan sudut kemiringan. Besar sudut azimuth matahari mempunya pola yang sama dengan sudut jam matahari yaitu apabila sebelum pukul 12.00 bernilai negatif sedangkan setelah pukul 12.00 sudut akan bernilai positif.

Terakhir, barulah dapat mengetahui sudut kemiringan pada panel surya. Nilai sudut kemiringan pada pukul 09.00 sama dengan pukul 15.00, pukul 10.00 sama dengan nilai pada pukul 14.00 dan nilai pada pukul 11.00 sama dengan nilai pada pukul 13.00. Dengan begitu, berdasarkan hasil analisis perhitungan didapat 4 sudut kemiringan yang berbeda yaitu pada pukul 09.00, 10.00, 11.00, dan 12.00 yaitu sebesar 36,77�, 32,41�, 30,01� dan 29,29.

2.    Radiasi

Dalam pengambilan data pada penelitian ini, peneliti memiliki beberapa faktor yang mempengaruhi pengujian, peneliti memlulai pengujian atau pengambilan data pada kamis,8 juni,2021. Namun penelitian tidak dapat dilanjut karena terjadi hujan atau kendala cuaca yang kurang bagus. Peneliti baru mendapatkan hari yang cerah pada tanggal 15 dan 16 juni.

Pada saat pengambilan data terdapat beberapa waktu dimana kondisi matahari sedang tertutup oleh awan yang menjadikan radiasi cahaya matahari yang diterima panel surya sangat kecil. Terdapat beberapa kondisi yang mempengaruhi radiasi matahari terhadap panel surya:

 

Gambar 5

Kondisi Matahari Tertutup Awan

(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

 

Pada kondisi ini bumi menerima radiasi hambur atau radiasi yang mengalami perubahan akibat terhalang partikel, zat atau, benda di udara yang dapat menghamburkan cahaya. Akibatnya cahaya matahari terhalangi awan yang dan menyebabkan radiasi yang diterima oleh panel surya tidak maksimal.

 

 

Gambar 6

Kondisi Matahari Cerah

(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

 

Pada kondisi ini radiasi yang mencapai bumi tanpa perubahan arah atau radiasi yang diterima oleh bumi dalam arah sejajar cahaya dating atau biasa dinamakan radiasi langsung. Sehingga radiasi yang diterima panel surya dapat maksimal.

3.    Suhu Lingkungan

 

Gambar 7

Data Suhu Lingkungan Selasa, 15 Juni 2021

(sumber: https://weather.com/)

 

Gambar 8

Data Suhu Lingkungan Rabu, 16 Juni 2021

(Sumber: https://weather.com/)

 

Suhu lingkungan pada saat melakukan penelitian pada tanggal 15 juni 2021 dan 16 Juni 2021 berkisar sekitar 32� pada siang hari. Menunjukan bahwa pada hari itu matahari sedang cerah.

4.    Proyeksi Relatif Gerak Semu Matahari Terhadap Lokasi Penelitian

 

Gambar 9

Gerak Semu Tahunan Relatif terhadap lokasi penelitian

(Sumber: Google Earth Pro)

 

Posisi relatif lokasi penelitian terhadap gerak semu matahari. Dari gambar tersebut dapat diketahui bahwa dibulan juni posisi matahari berada di sekitar 23� LU, dan lokasi penelitian berada di 6�11�34.59�S sehingga posisi matahari relatif terhadap lokasi penelitian adalah 23 � + 6 � = 29 � yang merupakan sudut radiasi terhadap lokasi penelitian.

C.  Analisa Hasil Penelitian

 

Tabel 4

Data Perbandinga Panel Surya

Jam

Radiasi (W/m2)

Daya (W)

Efisiensi (%)

Selisih Efisiensi

dengan

tanpa

dengan

tanpa

dengan

tanpa

09.00

527

235

11.520

4.038

4.879

3.835

1.044

09.30

567

351

13.546

7.410

5.332

4.712

0.621

10.00

589

520

15.174

10.826

5.750

4.647

1.103

10.30

634

573

19.665

17.127

6.923

6.671

0.252

11.00

753

628

23.673

20.826

7.017

6.987

0.030

11.30

782

776

24.560

23.868

7.010

6.865

0.145

12.00

1059

1020

28.448

28.354

5.996

6.204

-0.209

12.30

691

662

18.168

16.980

5.868

5.725

0.144

13.00

517

435

10.506

8.378

4.535

4.298

0.237

13.30

421

374

8.378

6.743

4.441

4.024

0.417

14.00

378

267

7.252

4.713

4.282

3.939

0.343

14.30

448

247

8.452

4.038

4.211

3.648

0.563

15.00

451

197

8.961

2.623

4.434

2.972

1.462

 

Didapat data � data yang menunjukan bahwa panel surya dengan solar tracker lebih optimal menangkap radiasi matahari sekitar jam 09.00 � 11.00 dan jam 13.00 � 15.00 karena panel surya dengan solar tracker lebih tegak lurus dengan pancaran intensitas cahaya matahari pada jam � jam tersebut. Sedangkan panel surya tanpa solar tracker hanya tetap pada sudut 0� yang mana hanya optimal pada saat matahari tepat diatas panel surya yaitu sekitar jam 11.30 � 13.00.

 

Gambar 10

Grafik Perbandingan Radiasi

 

Gambar 11

Grafik Perbandingan Daya

 

Gambar 12

Grafik Perbandingan Efisiensi

 

Pada grafik 12. diatas, terlihat perbandingan efisiensi antara panel surya dengan solar tracker dan tanpa solar tracker. Pada gerak panel surya tanpa solar tracker, efisiensi yang didapat ketika matahari diarah timur sangatlah kecil dan ketika matahari menuju ke atas panel surya barulah semakin besar, namun akan semakin menurun seiring dengan bergeraknya matahari ke arah barat. Sedangkan pada gerak panel dengan solar tracker, efisiensi yang didapat lebih besar ketika matahari sedang berada diarea timur dan barat.

 

 

Kesimpulan

Dari hasil pengujian Panel surya, dengan menggunakan solar tracker energi matahari dapat dikonversikan lebih optimal dibandingkan dengan tanpa solar tracker, karena arah panel yang dapat mengikuti arah sinar matahari. Sehingga panel surya dengan solar tracker memiliki efisiensi rata � rata sebesar 5.6 % sedangkan panel surya tanpa solar tracker memiliki efisiensi rata � rata sebesar 5.1%. Panel surya dengan solar tracker lebih optimal menangkap radiasi matahari sekitar jam 09.00 � 10.00 dan jam 13.30 � 15.00 karena panel surya dengan solar tracker lebih tegak lurus dengan pancaran intensitas cahaya matahari Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa efisiensi dengan solar tracker lebih besar dibanding tanpa solar tracker.

BIBLIOGRAFI

 

Aldrian, E., Karmini, M., & Budiman, B. (2011). Adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di Indonesia. Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara, Kedeputian Bidang Klimatologi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Google Scholar

 

Anna, K. (2021). Buku Praktikum Dasar-Dasar Klimatologi. Politeknik LPP. Google Scholar

 

Duha, P. H. (2021). Rancang Bangun Sistem Penggerak Panel Surya menggunakan Sensor LDR dan Motor Servo berbasis Mikrokontroler. Kumpulan Karya Ilmiah Mahasiswa Fakultas Sains Dan Tekhnologi, 1(1), 290. Google Scholar

 

Fauzi, K. W., Arfianto, T., & Taryana, N. (2018). Perancangan dan Realisasi Solar Tracking System untuk peningkatan Efisiensi Panel Surya menggunakan Arduino Uno. TELKA-Jurnal Telekomunikasi, Elektronika, Komputasi Dan Kontrol, 4(1), 63�74. https://doi.org/10.15575/telka.v4n1.63-74. Google Scholar

 

Ibrahim, K. M. (2020). Pembangkit Tenaga Surya Menggunakan Rancangan Panel Surya Hybrid dengan Thermoelectric Generator. Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Google Scholar

 

Priatam, P. P. T. D., Zambak, M. F., Suwarno, S., & Harahap, P. (2021). Analisa Radiasi Sinar Matahari Terhadap Panel Surya 50 WP. RELE (Rekayasa Elektrikal Dan Energi): Jurnal Teknik Elektro, 4(1), 48�54. https://doi.org/10.30596%2Frele.v4i1.7825. Google Scholar

 

Pujiastuti, A., & Harjoko, A. (2016). Sistem Perhitungan Lama Penyinaran Matahari dengan Metode Otsu Threshold (Studi Kasus: St. Klimatologi Barongan). Compiler, 5(2), 11�20. https://doi.org/10.28989/compiler.v5i2.166. Google Scholar

 

Rahardjo, I., & Fitriana, I. (2005). Analisis Potensi Pembangkit Listrik Tenaga Surya di Indonesia (pp. 43�52). Strategi Penyediaan Listrik Nasional Dalam Rangka Mengantisipasi Pemanfaatan PLTU Batubara Skala Kecil, PLTN, dan Energi Terbarukan, P3TKKE, BPPT, Januari. Google Scholar

 

Santi, R., & Sasana, H. (2021). Analisis Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Jumlah Penduduk, Foreign Direct Investment (FDI), Energi Use/Consumption dan Krisis Ekonomi Terhadap Kualitas Lingkungan Ditinjau Dari Tingkat Carbon Footprint di Asean 8. Diponegoro Journal of Economics, 10(2), 1�11. Google Scholar

 

Sitorus, T. B. (2018). Kinerja Kolektor Tipe Plat Datar Pada Mesin Pendingin Adsorpsi Tenaga Surya Di Kota Medan. Jurnal Teknosains, 7(2), 94�103. https://doi.org/10.22146/teknosains.35327. Google Scholar

 

Sitorus, T. B., Napitupulu, F. H., & Ambarita, H. (2014). Korelasi Temperatur Udara dan Intensitas Radiasi Matahari Terhadap Performansi Mesin Pendingin Siklus Adsorpsi Tenaga Matahari. Cylinder: Jurnal Ilmiah Teknik Mesin, 1(1), 8�17. Google Scholar

 

Soedjarwanto, N., & Zebua, O. (2015). Sistem Pelacak Otomatis Energi Surya Berbasis Mikrokontroler ATMega8535. Universitas Lampung. Google Scholar

 

Syafrialdi, R. (2015). Rancang Bangun Solar Tracker Berbasis Mikrokontroler Atmega8535 dengan Sensor LDR dan Penampil LCD. Jurnal Fisika Unand, 4(2), 113�122. https://doi.org/10.25077/jfu.4.2.%p.2015. Google Scholar

 

Yuliananda, S., Sarya, G., & Hastijanti, R. A. R. (2015). Pengaruh Perubahan Intensitas Matahari terhadap Daya Keluaran Panel Surya. JPM17: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 1(2), 193�202. https://doi.org/10.30996/jpm17.v1i02.545. Google Scholar

 

Yusfa, M. A. (2017). Desain Sistem Lampu Sorot Gedung Iqra UNISMUH Makassar Berbasiskan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Fotovoltaik (Vol. 3). Universitas Muhammadiyah Makassar. Google Scholar

 

Copyright holder :

Mustofa Kamil Rahman (2022)

 

First publication right :

Jurnal Syntax Admiration

 

This article is licensed under: