Volume 4, No. 1 Januari 2023

p-ISSN 2722-7782 | e-ISSN 2722-5356

DOI: �https://doi.org/10.46799/jsa.v4i1.528


 

MENGANALISIS KOMPENTENSI PEMIMPIN PERUBAHAN DI ERA PERUBAHAN DIGITAL DAN IMPLEMENTASI DI LEMBAGA PENDIDIKAN

 

Anipah, Cicih Yuniarsih, Susanti, Abdul Azis, Arip Septialona

Universitas Agama Islam Bunga Bangsa Cirebon, Indonesia

Emails: [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected]

 


 

Abstrak: ��������


Kepala Sekolah sebagai seorang pemimpin tentu harus memiliki kemampuan untuk memimpin lembaga agar mampu mencapai produktivitas yang tinggi. Oleh karena itu, seorang kepala sekolah harus memiliki komitmen tinggi dan kompetensi untuk terus berupaya meningkatkan kualitasi pendidikan dengan terus mengikuti perubahan teknologi di era digital ini. Dengan demikian perubahan era digital dapat berjalan teratur sesuai dengan apa yang dicita-citakan bersama. Adapun tujuan penelitian ini adalah seabagai berikut : mendeskripsikan dan menganalisis era perubahan digital; mendeskripsikan dan menganalisis pemimpin perubahan di era digital; mendeskripsikan dan menganalisis gaya kepempinan yang diterapkan oleh kepala sekolah. Penelitian ini menggunakan studi kepustakaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan mengumpulkan data melalui kajian teks dan hasil-hasil penelitian yang relevan,� Analisis data dilakukan dengan mengklasifikasikan data berdasarkan rumusan masalah yang dikaji.� Di era digital, di mana perkembangan teknologi terus maju, dampak negatif dan positif dari perkembangan ini mengarah pada kualitas karakter seseorang, terutama sebagai pendukung bangsa pelajar. Pembentukan karakter penting dalam upaya membentuk generasi penerus bangsa yang bermoral karena mencerminkan baik atau buruknya suatu bangsa.��


�����������������������������������������������������������������������


Kata Kunci: Perubahan, Pemimpin, Era Digital.

 

Abstract:

The principal as a leader must certainly have the ability to lead an institution in order to be able to achieve high productivity. Therefore, a school principal must have high commitment and competence to continue to strive to improve the quality of education by continuing to keep abreast of technological changes in this digital era. Thus changes in the digital era can run regularly according to what we aspire to together. The objectives of this study are as follows: to describe and analyze the era of digital change; describe and analyze change leaders in the digital era; describe and analyze the leadership style applied by the principal. This research uses literature study. This study uses a qualitative research approach by collecting data through text review and relevant research results. Data analysis is carried out by classifying data based on the formulation of the problem studied. In the digital era, where technological developments continue to advance, the negative and positive impacts of these developments lead to the quality of one's character, especially as a supporter of the student nation. The formation of character is important in the effort to form the next generation of a moral nation because it reflects the good or bad of a nation.

 

Keywords: Change, Leaders, Digital Age.

 

 

Article History�����������������������

Diterima��������� : 05 Desember 2022

Direvisi����������������������� : 02 Januari 2023

Publish������������ : 10 Januari 2023

�����������


 

PENDAHULUAN

Dalam kehidupan di era sekarang ini jauh berbeda dengan era yang dahulu. Hampir segala sesuatu yang kita lakukan tidak dapat lepas dari teknologi. Era digital yang semakin berkembang, yang pastinya diiringi dengan kemajuan teknologi yang tidak dapat dipisahkan lagi dari kehidupan setiap individu. Waktu terus berjalan dan perkembangan teknologi semakin hari semakin canggih dengan membawa segala dampak positif dan negatif. Teknologi tidak akan lepas dari dampak negatif. Era digital menggiring masyarakat ke era yang lebih informatif dan berilmu pengetahuan yang telah membawa perubahan mendasar dari berbagai macam bidang. (Sumardianta, 2014) berpendapat teknologi membawa seseorang dalam kehidupan yang lebih praktis, dan autistik. Dalam bidang pendidikan khususnya sekolah, peserta didik dapat dengan mudah untuk mencari bahan belajar dari perkembangan teknologi, akan tetapi peserta didik juga dapat dengan mudah terpengaruh oleh berbagai hal negatif dari teknologi jika tidak tepat dalam pemanfaatannya . Teknologi menjadikan segala hal menjadi lebih mudah. Berbagai macam situs dapat diakses melalui internet, jika tanpa pemanfaatan yang tepat, teknologi dapat berpengaruh buruk pada kualitas moral atau karakter peserta didik. Penelitian oleh Putri (2018) menyebutkan berbagai macam kasus destruktif seperti perseteruan antar etnis, perselisihan antar suku, tawuran antar sesama pelajar, narkoba, bullying, dan kekerasan pada anak merupakan sebagai contoh dari lemahnya karakter kebangsaan. Pendidikan karakter sejak usia dini merupakan upaya mencegah dan mengatasi permasalah tersebut.

Kepemimpinan merupakan salah satu komponen yang terpenting dalam menjalankan roda organisasi (Aprilana et al., 2017). Setiap organisasi memiliki pemimpin agar dapat menjalankan organisasi tersebut (Kristiawan et al., 2018). Tanpa adanya pemimpin maka organisasi akan kehilangan arah untuk menjalakan organisasinya. Kepala sekolah dalam lembaga pendidikan sebagai penentu sebuah keputusan apa yang benar, atau apa yang paling tepat, dalam keadaan situasi tertentu khususnya kebijakan Pendidikan (Sriwahyuni et al., 2019); (Yuliandri & Kristiawan, 2017). Pada era revolusi industri 4.0 tantangan banyak dialami di dunia pendidikan, maka kepemimpinan perlu mempunyai strategi dalam menjalankan organisasinya agar tercapainya tujuan yang diharapkan (Mukhlasin, 2019). Tentu kebijakannya mengarah pada unsur dan nilai yang ada dibagian itu sendiri, dari mulai kepentingan individu hingga global harus dikendalikan dengan baik. Kepemimpinan kepala sekolah memiliki peran yang sangat penting dalam membangun hubungan antar individu dan pembentukan nilai organisasi dan dijadikan sebagai pondasi agar tercapainnya tujuan organisasi.

Supriyadi dalam (Mulyasa, 2005) menyebutkan bahwa kepala sekolah merupakan salah satu komponen penting pendidikan yang paling dominan peranannya dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Karena erat hubungannya antara mutu/kompetensi kepala sekolah dengan berbagai aspek kehidupan sekolah seperti disiplin sekolah, iklim budaya sekolah, perilaku civitas sekolah dan sebagainya. Kepala sekolah bertanggungjawab atas manajemen pendidikan secara makro, artinya ia bertanggungjawab atas penyelenggaraan pendidikan, administrasi sekolah, pembinaan terhadap pendidik dan tenaga kependidikan serta pendayagunaan dan pemeliharaan sarana prasarana sekolah.

Kompetensi kepala sekolah sangat penting agar apa yang dicita-citakan bisa terwujud. Kecakapan kepala sekolah berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah adalah kompetensi kepribadian, kompetensi manajerial, kompetensi kewirausahaan, kompetensi supervisi, dan kompetensi sosial.

Saat ini, kita berada di era abad ke-21, kondisi dimana teknologi dan informatika berkembang sangat pesat. Perkembangan ini tentu akan mempengaruhi tujuan pendidikan Indonesia yang berdampak pada tuntutan perubahan kompetensi yang harus dimiliki oleh kepala sekolah agar mampu bersaing di abad ke-21. Begitu besar tantangan yang dihadapi oleh kepala sekolah saat ini sehingga sangat menarik untuk menganalisis lebih dalam mengenai kompetensi kepala sekolah untuk menghadapi abad ke-21.

Gaya kepemimpin kepala sekolah menurut Damsar dalam buku Sosiologi Pendidikan yaitu kepemimpinan autokratik, laisser faire, dan demokratik. Sedangkan menurut Haris gaya kepemimpinan kepala sekolah dibagi menjadi kepemimpinan demokratis, otoriter, kharismatik (charismatic leadership), kepemimpinan kebapakkan (paternalistic leadership), kepemimpinan ahli (expert leadership, kepemimpinan yang bebas (laissez faire leadership).

Berbagai gaya kepemimpinan kepala sekolah yang beragam tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, namun yang harus diperhatikan ialah implementasi gaya kepemimpinan kepala sekolah harus disesuaikan dengan keadaan yang terjadi pada lembaga pendidikan saat ini. Setiap kepala sekolah diharapkan memiliki gaya kepemimpinan yang ideal disesuaikan dengan kondisi serta tuntutan zaman. Para pemimpin sekolah menghadapi tantangan dalam menggunakan teknologi untuk meningkatkan proses belajar mengajar di abad ke-21 karena mereka juga harus menjadi panutan dalam penggunaannya sehingga dapat membantu peningkatan praktek kerja di sekolah (Wulandari et al., 2018). Dengan demikian teknologi harus digunakan tidak hanya untuk proses belajar mengajar, tetapi juga dalam manajemen organisasi mereka (Hamzah et al., 2016). Perubahan revolusi industri ini sudah merubah cara kerjamanusia yang otomatis/digitalisasi melalui inovasi yang telah dikembangkan (Suwardana, 2018). Sehingga sekarang ini meruapakan tantangan bagi kepala sekolah untuk menghadapi era digital ini. Kepala sekolah diharapkan mampu menyusun strategi untuk mewujudkan suatusistem pendidikan yang sesuai dengan Sistem Pendidikan Nasional dan selaras dengan perkembangan teknologi di era digital. Seorang kepala sekolah dituntut untuk mampu mengajak dan memberdayakan segala aspek yang berhubungan erat dengan sekolah termasuk seluruh warga sekolah untuk menciptakan peserta didik yang berkarakter di tengah perkembangan zaman yang semakin hari semakin berkembang ke arah digitalisasi.

Dunia pendidikan juga mengalami tantangan serupa, banyak hal yang harus disesuaikan dengan memanfaatkan teknologi. Proses belajar dari rumah memang tidak mudah, tapi mencipta renungan baru apa yang penting dipelajari dan apa yang menjadi kompetensi inti yang berguna untuk masa mendatang. Meski, ada segudang tantangan yang harus dicarikan solusinya bersama-sama diantaranya tantangan transformasi digital. Secara umum, transformasi digital dalam pendidikan bermakna mendigitalkan proses dan produk layanan pendidikan untuk meningkatkan pengalaman pembelajaran bagi semua pihak yang terlibat.

Menurut (Dilmegani, 2022), transformasi digital dalam dunia Pendidikan sekarang ini berfokus pada tiga hal. Pertama, aksesibilitas. Teknologi digital memungkinkan siswa didik mengakses sumber belajar lebih mudah dan lebih murah. Sekarang ini, orang-orang di seluruh pelosok dunia, dari segala usia, dengan status sosial ekonomi yang berbeda memiliki akses ke kelas belajar dan sumber daya pembelajaran melalui internet. Di saat yang sama, teknologi seperti text-to-speech telah menghilangkan hambatan bagi siswa penyandang cacat, yang selama ini menghadapi hambatan dalam mengikuti proses kegiatan pembelajaran.

Kedua, pembelajaran interaktif. Berkat teknologi dan ketersediaan berbagai macam aplikasi, format pembelajaran menjadi lebih interaktif. Contohnya, pembelajaran bahasa yang dilakukan secara interaktif melalui berbagai platform aplikasi dan mampu menjangkau lebih banyak peserta. Ketiga, pembelajaran adaptif. Teknologi komputer dan artifial inteligence (AI) memungkinkan metode pendidikan diselaraskan dengan keinginan para peserta didik.

Transformasi digital sangat penting untuk semua bidang, terlepas dari ukuran dan sektor aktivitasnya. Di luar dematerialisasi proses kerja, pendekatan ini memungkinkan system manajemen untuk mengoptimalkan operasi, dan untuk mendapatkan kinerja, efisiensi, dan daya saing melalui adopsi mode manajemen, alat baru, metode kerja baru, tetapi juga refleksi dan organisasi baru.

Perkembangan dan inovasi teknologi selama 20 tahun terakhir memberi kita kesempatan untuk mengakses ruang dan waktu tanpa kesulitan. Mempertimbangkan kemungkinan yang ditawarkan oleh teknologi untuk sosial dan ekonomi perkembangannya, strata globalisasi dianggap tepat untuk masuk ke dalam dimensi yang disebut "zaman digital", "zaman informasi", "masyarakat informasi".

 

METODE

Metode yang dilakukan dalam penulisan ini menggunakan studi kepustakaan. Data dikumpulkan melalui kajian teks dan hasil-hasil penelitian yang relevan. Analisis data dilakukan dengan langkah. Pertama, data-data yang telah terkumpul diklasifikasi berdasarkan rumusan masalah yang dikaji. Kedua, data-data yang dikaji secara kualitatif dianalisis dengan menggunakan analisis isi. Ketiga, berdasarkan hasil analisis dan interpretasi data, dilakukan pengambilan simpulan yang dilengkapi dengan saran-saran.

Penulisan ini menggunakan studi literatur dengan menelaah jurnal yang memiliki hubungan dengan bagaimana peran kepemimpinan kepala sekolah dalam pembentukan karakter peserta didik di era digital. Jurnal ini terdiri dari jurnal nasional, dan jurnal internasional. Selain itu penelitian ini juga menggunakan buku teks sebagai rujukan penulisan artikel ilmiah. Semua sumber di atas berkaitan dengan analisis kompetensi kepemimpinan perubahan di era digital dan implementasi di lembaga pendidikan.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.   Hasil

Hasil kajian ini yaitu mengkaji jurnal dan buku teks serta referensi lain yang relevan, selanjutnya dilakukan analisis dan penarikan simpulan. Hasil penelitian terkait dengan kepemimpinan kepala sekolah dalam pendidikan karakter peserta didik di era digital dapat dijelaskan sebagai berikut:

Hasil penelitian (Salam, 2017) dalam implementasinya pada pendidikan karakter, terdapat tiga peran kepala sekolah yaitu sebagai leader, sikap ramah, mendidik, merangkul, dan bertanggung jawab untuk semua warga sekolah. Sebagai manager, dalam menerapkan pendidikan karakter di sekolahnya, kepala sekolah harus memiliki suatu strategi dengan melibatkan seluruh elemen sekolah dan juga orang tua peserta didik untuk mewujudkan tujuan yang telah direncanakan sebelumnya. Selanjutnya adalah sebagai supervisor, kepala sekolah melakukan monitoring terhadap guru serta evaluasi yang dilaksanakan setiap akhir semester.

Selanjutnya hasil penelitian (Syarifah, 2019) menunjukkan bahwa dalam pendidikan karakter di sekolah, kepala sekolah berperan penting dan juga krusial. Penerapan pendidikan karakter dapat dilaksanakan dengan baik dengan menerapkan gaya kepemimpinan kepala sekolah transformasional. Selain itu pengelolaan sumber daya di sekolah juga harus dioptimalkan untuk memaksimalkan program pendidikan karakter.

Hasil penelitian (Putri, 2018) sampai pada simpulan yang menyatakan bahwa karakter akan terbentuk apabila setiap aktivitas yang berdampak pada karakter dilakukan secara berulang-ulang dan rutin sehingga menjadi sebuah budaya atau kebiasaan yang melekat dan akhirnya menjadi sebuah karakter. Dalam era digital, peran lingkungan keluarga, pendidik, dan masyarakat di sekitar sangat besar dalam pembentukan karakter peserta didik. Keluarga merupakan tempat pertama dan utama dalam menjalani kehidupan dituntut untuk membimbing dan mengawasi dengan tegas, penuh kasih sayang, dan cermat. Peran seorang pendidik dalam pembentukan karakter peserta didik semakin berat dan kompleks. Pendidik dalam hal ini adalah guru bukan sekedar mengajarkan pendidikan karakter secara konsep saja, akan tetapi guru juga dituntut untuk bagaimana peserta didik dapat menerapkan pendidikan karakter dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai panutan, guru juga harus dapat dengan baik menerapkan karakter dalam dirinya sendiri.

Hasil Penelitian (Ajmain & Marzuki, 2019) peranan kepala sekolah dalam penerapan pendidikan karakter peserta didik adalah sebagai seorang manajer maksudnya adalah kepala sekolah merupakan penentu kebijakan yang mengkoordinir seluruh kebutuhan peserta didik dalam hal pendidikan karakter. Sebagai pemimpin, yaitu dengan memberikan petunjuk serta pengawasan, kemampuan berkomunikasi, serta kemampuannya dalam mengambil keputusan. Selanjutnya adalah mendorong guru dan karyawan sekolah untuk menjadi panutan bagi peserta didik.

Hasil Penelitian selanjutnya adalah oleh (Widodo, 2018) menunjukkan bahwa peran kepala sekolah dalam pengembangan dan penerapan pendidikan karakter adalah kepala sekolah sebagai sosok pemimpin di sekolah melakukan pembinaan dalam hal penguatan, pemodelan, serta pengajaran karakter yang baik terhadap seluruh elemen di sekolah. Bapak dan ibu guru juga memiliki peran penting dalam pelaksanaan kebijakan yang telah dirancang oleh kepala sekolah, begitupun orang tua dalam peranannya pada pendidikan karakter peserta didik di rumah diharapkan mampu berkolaborasi dengan sekolah untuk menciptakan karakter baik padadiri peserta didik.

Hasil Penelitian (Herayati, 2020) mengenai pengaruh kepemimpinan kepala sekolah dalam melaksanakan program pendidikan karakter di sekolah menunjukkan bahwa merencanakan suatu kebijakan yang melibatkan seluruh warga sekolah baik itu guru, karyawan, wali murid, peserta didik, dan lingkungan di sekitar. Selain itu, pelatihan-pelatihanjuga harus dilaksanakan khususnya untuk para guru agar dapat lebih kreatif dalam mengajar dengan memasukan suatu hal yang berhubungan dengan pendidikan karakter pada setiap proses pembelajaran. Sinergi dengan wali murid juga dapat dilakukan dengan cara mengundang wali murid untuk turut serta berpartisipasi dalam suatu kegiatan parenting dengan pembicarapraktisi pendidikan.

Selanjutnya adalah hasil penelitian (Arifin, 2017) yang menyatakan bahwa pendidikan karakter peserta didik membawa pada pengenalan nilai kognitif, serta penghayatan nilai secaraefektif yang nantinya memberi pengalaman pada nilai yang sesungguhnya. Pendidikan karakter memiliki tujuan sebagai peningkatan mutu hasil penyelenggaraan pendidikan di sekolah untuk menuju pada capaian pendidikan karakter serta akhlak mulia dari peserta didik secara keseluruhan, seimbang, terpadu, yang sesuai dengan standar kompetensi lulusan.

Penelitian (Datuk, 2020) hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan di era Revolusi 4.0 hendaknya berfokus pada pendidikan karakter peserta didik. Karakter peserta didik dapat berubah sesuai dengan peluang dan lingkungan belajar yang diciptakan. Pendidikankarakter dapat berhasil jika semua elemen pendidik dapat dengan baik melaksanakan pengembangan karakter dan melaksanakan secara konsisten dan bersama.

Selanjutnya adalah hasil penelitian (Tetep, 2019) menyatakan bahwa keterampilan literasi media merupakan tantangan bagi dan juga peluang bagi generasi untuk dapat mengikuti perubahan serta perkembangan dalam bidang teknologi informasi dan teknologi digital. Keterampilan tersebut harus diimbangi dengan kompetensi individu yang berpengaruh terhadap pengembangan karakter individu dan sosial. Keterampilan teknis, pemahaman kritis dan kemampuan komunikatif merupakan kompetensi yang dapat digunakan dalam pembentukan karakter individu dan sosial seseorang. Karakter sosial yang baik tidak memungkinkan media digital dan internet menjadi dampak negatif.

Hasil penelitian (Mufatakhah & Rejekiningsih, 2020) Islamic Individual Building merupakan metode pendidikan karakter yang dilakukan untuk menanamkan pengetahuan moral, moral perasaan, dan moral perilaku siswa. Pendidikan karakter menanamkan kebiasaan baik untuk peserta didik agar mereka dapat mengerti, mencintai kebaikan, dan melakukan kebaikan. Islamic Individual Building dilakukan untuk meningkatkan sikap kepedulian sosial, Kerjasama yang baik, dan saling menghargai. Karakter perlu ditanamkan sedini mungkin untuk menghindarkan peserta didik dari dampak negatif dari perkembangan teknologi.

Penelitian (Zaman, 2019) hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan karakter bertujuan untuk peningkatan pada mutu dari penyelenggaraan serta output pendidikan di sekolah yang berfokus pada pembentukan karakter dan juga akhlak peserta didik yang sesuai dengan kriteria dari standar kompetensi lulusan. Pendidikan karakter juga dituntut untuk mampu membentuk peserta didik yang lebih mandiri dalam membentuk serta meningkatkan kemampuan intelektualnya dan juga mengkaji serta menginternalisasi nilai- nilai karakter dan juga akhlak mulia yang tergambar dalam kehidupan sehari-hari peserta didik.

Penelitian (Tryanasari et al., 2020) mengatakan bahwa pendidikan karakter merupakan elemen penting yang menentukan kekuatan suatu bangsa. Karakter yang baik harus dibentuk dari waktu ke waktu melalui proses pendidikan yang berkelanjutan. Pendidikan karakter adalah upaya untuk membentuk kepribadian baik pada diri generasi muda agar tidak terjerumus ke dalam dampak negatif dari arus era yang semakin modern yang penuh dengan kehidupan materialistik yang dapat menimbulkan kegelisahan dan kekosongan spiritual. Pendidikan karakter bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang demokratis dalam kehidupan modern yang semakin terbuka dan berdaya saing.

Selanjutnya adalah hasil penelitian (Effendi et al., 2020) menunjukkan bahwa peran kepemimpinan transformasional kepala sekolah dalam optimalisasi pelak55sanaan serta evaluasiprogram penguatan pendidikan karakter adalah dengan mendorong perkembangan dan perubahan melalui kesamaan visi, misi, dan tujuan, memberikan peluang besar bagi pengembangan inisiatif, kreativitas, dan inovasi untuk menemukan cara baru untuk memecahkan masalah lama. Menumbuhkan rasa percaya diri, peduli, dan mengakui, dan menghargai kontribusi, dapat dipercaya, empati, dan memenuhi kebutuhan seluruh komponen sekolah. Melaksanakan tugas secara bertanggung jawab untuk kebaikan bersama, memberikan motivasi inspirasional untuk melakukan lebih dari apa yang dilakukan bawahannya dan mendorong untuk melakukan kerjasama antara sekolah, orang tua, dan masyarakat.

Penelitian (Arwen & Puspita, 2020), sampai pada simpulan yang menyatakan bahwa pada dasarnya teknologi merupakan suatu alat. Oleh karena itu, agar peserta didik memiliki karakter positif, diperlukan pemanfaatan budaya dan pendidikan karakter agar kearifan budaya lokal tetap terjaga dalam diri mereka. Membentuk karakter peserta didik memang tidak mudah, oleh karena itu, dibutuhkan visi dan misi yang tepat dan kuat dari kepala sekolah dalam menciptakan karakter yang berkualitas pada peserta didik.

Selanjutnya adalah penelitian (Dekawati, 2020) dimana hasil temuan penelitiannya menunjukkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas karakter peserta didik. oleh karena itu, pembinaan karakter peserta didik dapat dilakukan dengan cara meningkatkan kepemimpinan kepala sekolah yaitu dengan meningkatkan keterbukaan informasi melalui komunikasi dengan memaksimalkan fasilitas komunikasi digital dan penyelenggaraan upacara bendera merupakan kesempatan untuk menyampaikan informasi secara optimal. Selanjutnya adalah dengan membangun tim kerja yang handal dan berpartisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan serta membangun kerjasama dengan masyarakat sekitar dalam menjaga lingkungan.

Penelitian (Wening & Santosa, 2020) menunjukkan bahwa strategi kepemimpinan sangat dibutuhkan dalam era digital sehingga dapat mengikuti perkembangan yang terjadi. Pengembangan kualitas sumber daya manusia merupakan salah satu strategi, terutama dalam bidang teknologi dan informatika baik dari segi sarana prasarana, kesiapan untuk menghadapi segala hal yang mungkin terjadi, maupun reaksi cepat yang dilakukan dalam perubahan era digital yang berorientasi terhadap proses dan hasil. Penerapan teknologi yang diterapkan kepala sekolah dilakukan melalui aplikasi Penilaian Kinerja Guru (PKG) yang dilaksanakan di lembaga setiap bulan. Melalui kegiatan ini kepala sekolah secara aktif mampu mengembangkan teknologi terhadap guru. Terdapat empat elemen dalam hal ini yaitu, critical thinking, creativity, communication, dan collaboration. Seorang pemimpin yang memiliki jiwa visioner tidak hanya mengikuti perkembangan zaman saja, akan tetapi juga harus mampu membawa organisasinya untuk menjadi tuntunan dan acuan bagi orang lain sehingga tidak tertinggal.

Penelitian Soedjono (2022) menghasilkan pengetahuan memiliki kepentingan yang besar seperti halnya memperoleh pengetahuan. Tampaknya keberhasilan individu, lembaga atau masyarakat tergantung pada kegiatan memproduksi dan menggunakan informasi. Peningkatan penggunaan dan produksi pengetahuan menempatkan masyarakat ke dalam kebutuhan transformasi. Salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah adalah revolusi industri (industri) yang potensi untuk mengubah masyarakat. Kecepatan: teknologi baru yang terhubung satu sama lain dan sangat serbaguna bergerak cepat secara eksponensial kecepatan, memicu satu sama lain. Lebar dan Kedalaman: digitalisasi mempercepat industri 4.0. Namun, peningkatan keragaman teknologi di industri telah membawa perubahan. Dampak sistem: Industri 4.0 diperkirakan akan mengalami perubahan total seperti industry digital, perusahaan, dan bahkan negara. Tren teknologi: meningkatnya penggunaan internet dan perkembangan teknologi internet.

B.   Pembahasan

Berdasarkan literatur di atas, maka dapat dikatakan bahwasannya dalam era digital yang semakin maju ini, terdapat dampak positif dimana peserta didik dapat memperoleh cara pembelajaran yang lebih efektif dan efisien melalui berbagai sumber terutama internet. Akan tetapi terdapat juga dampak negatif yang disebabkan oleh digitalisasi yang berpengaruh pada kualitas karakter peserta didik. Peran dari kepemimpinan kepala sekolah sangatlah penting dimana seorang kepala sekolah merupakan tokoh sentral dalam upaya untuk mengembangkan karakter peserta didik di sekolah, kebijakan-kebijakan yang dibuat harus sesuai dengan situasi era digital sehingga peserta didik dapat memiliki kualitas karakter yang baik di tengah perkembangan digital yang semakin maju. Kegiatan yang dilakukan dalam pemanfaatan teknologi dalam pembentukan karakter anak usia dini dilakukan melalui pemutaran vidio pembelajaran bernuansa islami, seperti tata cara sholat, praktek wudhu, kisah-kisah nabi, dan murotal

Arti karakter berasal dari bahasa Yunani yaitu �charassian� yang memiliki arti menandai dan memfokuskan seperti apa cara penerapan nilai-nilai kebaikan berbentuk tingkahlaku. Oleh sebab itu, apabila seseorang berperilaku buruk , maka dapat dikatakan bahwasannyaseseorang tersebut memiliki karakter yang buruk, begitu pula sebaliknya, apabila perilaku seseorang itu baik dan sesuai dengan norma-norma dan kaidah moral yang ada, maka dapat dikatakan orang tersebut memiliki karakter yang mulia (Aeni, 2014).

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, karakter adalah suatu tabiat, sifat- sifat kejiwaan, akhlak, maupun budi pekerti dimana setiap individu berbeda-beda, sedangkan kata berkarakter diartikan sebagai memiliki tabiat, memiliki kepribadian/watak (Poerwadarminta, 2007). Dalam kamus psikologi, karakter didefinisikan sebagai kepribadian seseorang yang dinilai dari titik tolak etis atau moral, misal kejujuran seseorang, pada umumnya berkaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap (Hidayatullah, 2009).

Karakter merupakan sifat nyata yang pastinya setiap individu berbeda hal itu dikarenakan kepribadian dari individu satu dengan yang lainnya yang juga berbeda-beda, dan merupakan sebuah atribut yang dapat digunakan untuk mengamati individu tersebut. (Doni & Karakter, 2007) mengatakan bahwa karakter merupakan dua hal yaitu yang pertama, merupakan kumpulan suatu kondisi yang diberikan dan telah ada begitu saja yang dipaksakan dalam diri setiap individu. Prinsip ini mengatakan bahwasannya karakter dapat dikatakan sebagai sesuatu yang telah ada dari sananya (given). Kedua adalah karakter merupakan suatu level dimana setiap individu mampu untuk menguasai kondisi tersebut. Prinsip tersebut maksudnya adalah karakter merupakan sebuah proses yang dikehendaki. Dari beberapa definisi di atas dapat dikatakan bahwasannya karakter merupakan sifat-sifat kejiwaan yang tertanam dalam diri setiap individu dan terekspresikan melalui perilaku serta memiliki hubungan dengan TuhanYang Maha Esa, diri individu itu sendiri, antar sesama manusia, lingkungan sekitar, dan kebangsaaan.

Awal mula terbentuknya karakter adalah dari lingkungan keluarga dimana individu untuk pertama kalinya dididik serta diajarkan berbagai nilainilai kehidupan. Salah satu usaha untuk menciptakan karakter anak bangsa yang berkualitas adalah dengan pendidikan karakter. Terdapat dua kata dalam pendidikan karakter yakni pendidikan dan karakter, sebagian ahli mengutarakan bahwasannya definisi dari pendidikan berbeda-beda, menyesuaikan dengan sudut pandang, paradigma, metodologi serta disiplin ilmu yang digunakan. (Hermino, 2018) menyatakan makna pendidikan karakter lebih tinggi dari pendidikan moral karena pendidikan karakter bukan sekedar masalah benar atau salah saja, akan tetapi bagaimana cara dalam menanamkan suatu kebiasaan terhadap kebaikan sehingga anak atau peserta didik dapat memiliki kesadaran, pemahaman yang tinggi, serta menerapkan dalam kehidupan sehari- harinya. Dengan demikian maka pendidikan karakter dapat didefinisikan sebagai sebuah sistem dalam menanamkan karakter kepada warga sekolah meliputi pengetahuan, kemauan, kesadaran, tindakan, sikap, dan keterampilan.

Pendidikan karakter merupakan suatu sarana dimana peserta didik diarahkan untuk melakukan suatu hal yang dianggap baik sehingga dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya. (Megawangi, 2004) menyatakan bahwa pendidikan karakter merupakan suatu upaya memberikan pendidikan kepada anak sehingga keputusan yang mereka ambil dapat secara bijak dan selanjutnya dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari yang dapat memberi manfaat dan kontribusi positif di lingkungannya Pendidikan karakter juga dapat diartikan sebagai sebuah sarana untuk sosialisasi karakter yang patut untuk ditiru dan seharusnya dimiliki oleh generasi-generasi penerus bangsa. Hasil Penelitian (Zaman, 2019) menunjukkan bahwa pendidikan karakter bukan hanya sekedar pengajaran mengenai yang benar dan yang salah saja, akan tetapi pendidikan karakter lebih menekankan bagaimana segala hal-hal baik dapat menjadi suatu kebiasaan pada diri setiap individu.

Tujuan pendidikan karakter sendiri tertuang pada Permendikbud No. 23 tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti yaitu : membentuk sekolah sebagai tempat belajar yang menyenangkan bagi peserta didik, guru, dan tenaga kependidikan; menumbuh kembangkan kebiasaan baik sebagai suatu bentuk pendidikan karakter sejak dalam lingkup keluarga, sekolah, hingga masyarakat; menjadikan pendidikan sebagai sebuah gerakan yang mengharuskan keterlibatan antara pemerintah pusat maupun daerah masyarakat hingga keluarga dan mengembangkan dan menumbuhkan lingkungan dan budaya belajar yang bersifat kolaboratif antara keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Penerapan pendidikan karakter pada era digital merupakan hal penting yang harus dilakukan supaya generasi emas penerus bangsa dapat memiliki moral yang baik karena mereka merupakan cermin kualitas bangsa. Jika kualitas moral dan kognitif generasi penerus bangsa baik, maka kualitas bangsa tersebut dapat dikatakan baik kualitasnya. oleh karena itu, peran dari keluarga, sekolah, hingga masyarakat sangat sentral dalam pembentukan karakter, khususnya sekolah tempat peserta didik menempuh pendidikan dimana seorang kepala sekolah sebagai seorang pimpinan organisasi sekolah yang menjadi panutan bagi seluruh warga sekolahnya mulai dari guru, karyawan, hingga peserta didik.

Kepemimpinan kepala sekolah merupakan suatu proses memimpin, membimbing, serta bagaimana kemampuan seorang kepala sekolah untuk mengontrol segala hal terkait sekolah yang dipimpinnya. Kepala sekolah merupakan sosok terdepan dalam menciptakan suatu kegiatan pembelajaran di sekolah yang bermutu khususnya dalam pendidikan karakter. (Trihantoyo, 2015) menyatakan bahwa dalam penerapan pendidikan karakter di sekolah membutuhkan peran penting dari seorang kepala sekolah. Penerapan dari nilainilai pendidikankarakter membutuhkan figur dari seluruh warga sekolah.

Oleh karena itu, efektifitas dari peran kepala sekolah sangat diperlukan untuk mengajakdan merangkul seluruh warga sekolah sehingga mejadi cerminan atau panutan yang baik dan dapat menjadi contoh untuk peserta didik. Kepala sekolah dalam perannya dalam pendidikan karakter di era digital seperti sekarang sangatlah vital karena hal tersebut mengakibatkan suatu ancaman bagi sekolah yang dipimpinnya. Kualitas moral peserta didik merupakan hal utama yang perlu diperhatikan. Hasil penelitian (Salam, 2017) mengatakan bahwa terdapat tiga peran kepala sekolah yaitu yang pertama sebagai leader, kepala sekolah harus memiliki sikap ramah sehingga dapat merangkul seluruh elemen sekolah serta mendidik dan bertanggung jawab untuk semua warga sekolahnya. Kedua yaitu sebagai manager, seorang kepala sekolah harus cakap dalam merencanakan strategi yang tepat untuk menjaga dan meningkatkan kualitas moral peserta didiknya di tengah arus perkembangan di era digital saat ini dengan merangkul seluruh elemen yang terlibat dalam hal ini adalah guru, orang tua peserta didik, dan masyarakat sekitar. Ketiga adalah sebagai supervisor, kepala sekolah harus terjun langsung ke lapangan untuk mengetahui bagaimana situasi yang sebenarnya terjadi dan memonitoring serta melakukan evaluasi untuk mengetahui apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Kepemimpinan kepala sekolah memiliki dampak positif dalam perkembangan pendidikan karakter. Seorang kepala sekolah harus mampu mengetahui dan menganalisis segala sesuatu yang merupakan bentuk perkembangan teknologi era digital yang berdampak pada karakter peserta didiknya. Selain itu, seorang kepala sekolah juga harus mengikuti perkembangan teknologi yang semakin maju karena sebagai panutan dan memberikan edukasi kepada seluruh warga sekolahnya, kepala sekolah juga harus memiliki pengetahuan yang lebih luas.

Hasil penelitian (Dekawati, 2020) menunjukkan bahwa usaha yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam perannya pada pendidikan karakter di sekolah yaitu dengan cara meningkatkan keterbukaan mengenai informasi melalui komunikasi dengan memanfaatkan fasilitas komunikasi digital dan menyampaikan informasi secara optimal dengan pemanfaatan kegiatanupacara bendera. Selanjutnya adalah dengan membangun kerjasama tim yang handal dan ikut serta berpartisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, melalui kerjasama antara sekolah dan masyarakat sekitar dalam menjaga lingkungan.

Kepemimpinan kepala sekolah memiliki peran vital dalam pengembangan pendidikan karakter peserta didik yaitu dengan melakukan kerjasama yang solid dan mendorong guru untuk berinovasi dalam hal pembelajaran Oleh karena itu kepala sekolah dan guru harus mampu berkolaborasi untuk menciptakan suatu inovasi pembelajaran dengan penerapan nilai- nilai yang berhubungan dengan pendidikan karakter dalam proses pembelajaran. Hasil penelitian (Mistar & Sunyoto, 2020) menunjukkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah sangat dibutuhkan, karena dengan kinerja yang baik makan akan dapat mengarahkan dan mempengaruhi seorang guru untuk melaksanakan pembelajaran secara efektif dan efisien sehingga tujuan pendidikan yang sebelumnya telah ditetapkan dapat terwujud.

Kepemimpinan kepala sekolah harus mampu untuk menciptakan visi dan misi yang tepat, inovatif, dan kuat agar pendidikan karakter tidak menyimpang dari kearifan budaya lokal di tengah arus teknologi yang semakin berkembang di era digital seperti ini. Dukungan dari berbagai pihak yang terlibat dalam pengembangan karakter peserta didik juga turut menjadi kesuksesan kebijakan yang telah direncanakan oleh kepala sekolah.

 

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan. Pertama, dalam era digital dimana terjadi perkembangan teknologi semakin maju, dampak negatif maupun positif dari perkembangan tersebut berakibat pada kualitas karakter seseorang khususnya peserta didik sebagai penerus bangsa. Pendidikan karakter penting untuk dilakukan dalam upaya pembentukan generasi penerus bangsa yang bermoral karena mereka merupakan salah satu cerminan baik atau tidaknya suatu bangsa. Kedua, berbagai macam peran dan wewenang kepala sekolah dalam merancang strategi serta inovasi dalam hal pengembangan pendidikan karakter peserta didik dan merangkul seluruh elemen di sekolahnya mulai dari guru, tenaga kependidikan, peserta didik, hingga masyarakat sekitar merupakan bentuk nyata bagaimana kepemimpinan kepala sekolah memiliki peran yang sangat vital dalam pendidikan karakter peserta didik di sekolah. Ketiga, peran kepemimpinan kepala sekolah ditunjukan melalui keteladanan dan kepribadian yang tampak dari sikap, pengetahuan, keterampilan dan pengalaman- pengalamannya sebagai seorang pemimpin pendidikan dan manajer sekolah menjadi panutan bagi seluruh warga sekolah khususnya peserta didik dalam mewujudkan dan mensukseskan pendidikan karakter. Kepemimpinan yang ideal adalah kepemimpinan yang mengikuti tuntutan revolusi industri 4.0. pemimpin yang mengikuti perkembangan teknologi pemimpin harus memiliki keterampilan dalam mempengaruhi, mendorong, membimbing, mengarahkan, dan menggerakkan orang lain yang ada hubungannya dengan pelaksanaan dan pengembangan pendidikan dan pengajaran diera digital.

 

BIBLIOGRAFI

 

Aeni, A. N. (2014). Pendidikan Karakter Untuk Mahasiswa PGSD. UPi Press.

 

Ajmain, A., & Marzuki, M. (2019). Peran guru dan kepala sekolah dalam pendidikan karakter siswa di SMA Negeri 3 Yogyakarta. SOCIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial, 16(1), 109�123. https://doi.org/10.21831/socia.v16i1.276 55.

 

Aprilana, E. R., Kristiawan, M., & Hafulyon, H. (2017). Kepemimpinan Kepala Madrasah dalam Mewujudkan Pembelajaran Efektif di Madrasah Ibtidaiyyah Rahmah El Yunusiyyah Diniyyah Puteri Padang Panjang. ELEMENTARY: Islamic Teacher Journal, 4(1), 1�22. https://doi.org/10.21043/elementary.v4i1.1975.

 

Arifin, S. (2017). Peran Guru Pendidikan Jasmani Dalam Pembentukan Pendidikan Karakter Peserta Didik. Multilateral: Jurnal Pendidikan Jasmani Dan Olahraga, 16(1), 78�92. https://doi.org/10.20527/multilateral.v16i1.3666.

 

Arwen, D., & Puspita, D. R. (2020). The Role of Technology on Students� Character Education. Journal of Physics: Conference Series, 1477(4), 42070. https://doi.org/10.1088/1742-6596/1477/4/042070.

 

Datuk, A. (2020). Internalization of Character Education in Era 4.0 as A Moral Conservation Solution for Students in Kupang City. The 5th Progressive and Fun Education International Conference (PFEIC 2020), 21�30. https://doi.org/10.2991/assehr.k.201015.005.

 

Dekawati, I. (2020). The Principal�S Leadership As the Effort To Build Students� Character. International Journal of Educational Management and Innovation, 1(2), 109�119. https://doi.org/10.12928/ijemi.v1i2.1631

 

Dilmegani, C. (2022). AI chips: A guide to cost-efficient AI training & inference in 2022 (Vol. 9). AI Multiple.

 

Doni, K. A., & Karakter, P. (2007). Sinergi Mendidik Anak di Zaman Global. Jakarta: Grasindo.

 

Effendi et al. (2020). The principal transformational leadership strategy in developing national policies for strengthening character education in eastern Indonesia. Italian Journal of Sociology of Education, 12(2), 51�78. https://doi.org/https://doi.org/10.14658/pupj-ijse-2020-.

 

Hamzah, M. I. M., Juraime, F., & Mansor, A. N. (2016). Malaysian principals� technology leadership practices and curriculum management. Creative Education, 7(7), 922. https://doi.org/10.4236/ce.2016.77096.

 

Herayati, H. (2020). Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap Pelaksanaan Pendidikan Karakter Di SDIT Islamicity Tangerang. Jurnal Perspektif, 18(2), 218�224. https://doi.org/10.31294/jp.v17i2.

 

Hermino, A. (2018). Guru dalam Tantangan Globalisasi: Kajian Teoritis dan Praktis dalam Manajemen Pendidikan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

 

Hidayatullah, M. F. (2009). Guru Sejati Membangun Insan Yang Kuat dan Cerdas. Surakarta: Yuma Pustaka.

 

Kristiawan, M., Suryanti, I., Muntazir, M., Ribuwati, A., & AJ, A. (2018). Inovasi Pendidikan. Jawa Timur: Wade Group National Publishing.

 

Megawangi, R. (2004). Pendidikan karakter solusi yang tepat untuk membangun bangsa. Jakarta: Indonesia Heritage Foundation.

 

Mistar, J., & Sunyoto, K. H. (2020). Sketsa Pelangi Pendidikan Karakter. Malang: Intelegensia Media.

 

Mufatakhah, L., & Rejekiningsih, T. (2020). Strengthening of Students� Solidarity Character Education in the Digital Era Through Islamic Individual Building for Junior Students. 3rd International Conference on Learning Innovation and Quality Education (ICLIQE 2019), 1205�1212. https://doi.org/10.2991/assehr.k.200129. 148.

 

Mukhlasin, A. (2019). Kepemimpinan Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0. Jurnal Tawadhu, 3(1), 674�692.

 

Mulyasa, E. (2005). Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. https://doi.org/Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

 

Poerwadarminta, W. J. S. (2007). Kamus umum bahasa indonesia edisi ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

 

Putri, D. P. (2018). Pendidikan karakter pada anak sekolah dasar di era digital. AR-RIAYAH: Jurnal Pendidikan Dasar, 2(1), 37�50. https://doi.org/10.29240/jpd.v2i1.439.

 

Salam, M. (2017). Peran kepemimpinan kepala sekolah dalam implementasi pendidikan karakter di sekolah dasar. Jurnal Gentala Pendidikan Dasar, 2(2), 329�345. https://doi.org/10.22437/gentala.v2i2.681 4.

 

Sriwahyuni, E., Kristiawan, M., & Wachidi, W. (2019). Strategi Kepala Sekolah Dalam Mengimplementasikan Standar Nasional Pendidikan (SNP) Pada SMK Negeri 2 Bukittinggi. JMKSP (Jurnal Manajemen, Kepemimpinan, Dan Supervisi Pendidikan), 4(1), 21�33. https://doi.org/10.31851/jmksp.v4i1.2472.

 

Sumardianta, J. (2014). Habis Galau Terbitlah Move On. Yogyakarta: Bentang Pustaka.

 

Suwardana, H. (2018). Revolusi industri 4. 0 berbasis revolusi mental. JATI UNIK: Jurnal Ilmiah Teknik Dan Manajemen Industri, 1(2), 109�118. https://doi.org/10.30737/jatiunik.v1i2.117.

 

Syarifah, L. S. (2019). Implementasi pendidikan karakter: Sebuah kajian ilmiah dari perspektif gaya kepemimpinan kepala sekolah. NIẒĀMULILMI: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 4(1), 1�21. https://doi.org/10.1234/nizamulilmi.v4i01.6.

 

Tetep, A. S. (2019). Students� digital media literacy: Effects on social character. International Journal of Recent Technology and Engineering (IJRTE) ISSN, 8(2), 2277�3878. https://doi.org/10.35940/ijrte.B1091.098 2S919.

 

Trihantoyo, S. (2015). Peranan kepemimpinan kepala sekolah dalam menumbuhkan nilai karakter. Jurnal Pendidikan Karakter, 3, 25�35.

 

Tryanasari, D., Oktarianto, M. L., & Afriyadi, M. M. (2020). Character Education for Indonesian Gold Generations: Basic Education Challenges in the Era of Disruption. 1st International Conference on Information Technology and Education (ICITE 2020), 116�121. https://doi.org/10.2991/assehr.k.201214. 223.

 

Wening, M. H., & Santosa, A. B. (2020). Strategi kepemimpinan kepala sekolah dalam menghadapi era digital 4.0. JMKSP (Jurnal Manajemen, Kepemimpinan, Dan Supervisi Pendidikan), 5(1), 56�64. https://doi.org/10.31851/jmksp.v5i1.3537.

 

Widodo, H. (2018). Strategi Kepala Sekolah Dalam Mengembangkan Pendidikan Karakter Di Sekolah Dasar Muhammadiyah Sleman. Metodik Didaktik: Jurnal Pendidikan Ke-SD-An, 13(2), 69�80. https://doi.org/10.17509/md.v13i2.8162.

 

Wulandari, Y., Sartika, E. D., & Perawati, P. (2018). Strategi Kepala sekolah perempuan dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan. JMKSP (Jurnal Manajemen, Kepemimpinan, Dan Supervisi Pendidikan), 3(1), 126�136. https://doi.org/10.31851/jmksp.v3i1.1584.

 

Yuliandri, J., & Kristiawan, M. (2017). Peran Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap Peningkatan Kinerja Guru. Jurnal Dosen Universitas PGRI Palembang.

 

Zaman, B. (2019). Urgensi pendidikan karakter yang sesuai dengan falsafah bangsa indonesia. Al Ghazali, 2(1), 16�31.


 


Copyright holder:

Anipah, Cicih Yuniarsih, Susanti, Abdul Azis, Arip Septialona (2023)

 

First publication right:

Jurnal Syntax Admiration

 

This article is licensed under: