Jurnal Syntax Admiration

Vol. 1 No. 5 September 2020

p-ISSN : 2722-7782 e-ISSN : 2722-5356

Sosial Teknik

 

NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM LONTAR CILINAYA

 

Dwi Harianti

Institut Negeri Gde Pudja Mataram, Indonesia

Email: [email protected]

 

INFO ARTIKEL

ABSTRAK

Diterima

24 Agustus 2020

Diterima dalam bentuk revisi

Diterima dalam bentuk revisi

 

Penelitian ini diarahkan untuk mendapatkan kajian nilai-nilai pendidikan karakter dalam naskah lontar Cilinaya dengan nomor inventaris 07.932. Adapun masalah yang diungkapkan dalam penelitian ini adalah menganalisis isi dan susunan naskah lontar Cilinaya dan selanjutnya mengkaji nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat didalamnya. Sedangkan tujuan dari penelitian ini yaitu memperkenalkan lebih dalam karya sastra yang ada di pulau Lombok kepada masyarakat umum dengan mengetahui isi dan susunan naskah serta mendiskripsikan nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung didalamnya. Data diperoleh dengan metode dokumentasi dan kepustakaan yang selanjutnya data tersebut diinterpretasikan dengan memberikan makna, menjelaskan pola dan karakteristik antara berbagai konsep. Untuk mendapatkan pola dan karakteristik tersebut didukung dengan teori hermeneutika (Hermes). Dari hasil penelitan dapat disimpulkan bahwa: naskah lontar Cilinaya terdiri atas 13 jenis Puh atau Pupuh dan 340 bait. Nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam naskah lontar ini yaitu nilai religius, jujur, kerja keras, menghargai prestasi, bersahabat, rasa ingin tahu, peduli sosial dan tanggung jawab. Dari hasil analisa, nilai yang mendominasi dalam naskah lontar tersebut yaitu nilai jujur dan bekerja keras. Dimana setiap orang hendaknya bersikap jujur atas kemampuan yang dimilikinya dan bekerja keras untuk mewujudkan janji yang telah dibuat.

Kata kunci:

Lontar Cilinaya; Pendidikan Karakter



 

Pendahuluan

Pendidikan pada dasarnya adalah suatu proses untuk menciptakan kedewasaan pada manusia. Proses dan hasil upaya pendidikan dampaknya tidak akan terlihat dalam waktu yang segera, akan tetapi melalui proses yang panjang. Melihat kondisi sekarang dan akan datang, ketersediaan SDM yang berkarakter merupakan kebutuhan yang amat vital. Hal ini diperlukan untuk mempersiapkan tantangan global dan daya saing bangsa. Memang tidak mudah untuk menghasilkan SDM yang tertuang dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas yang mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah �� agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab� (Laksana, 2016).

Banyak faktor yang menyebabkan runtuhnya potensi bangsa Indonesia, diantaranya adalah faktor pendidikan. Peneliti menyadari bahwa pendidikan merupakan mekanisme institusional yang akan mengakselerasikan pembinaan karakter bangsa. Dalam hal ini, pemerintah mencoba untuk memperbaiki sistem pendidikan termasuk dalam proses pembelajaran maupun kurikulum untuk mencapai suatu tujuan dan mutu pendidikan ke arah yang lebih baik. Kurikulum yang dimaksud adalah kurikulum 2013 (K13) yang menekankan pada pendidikan karakter. Pendidikan karakter tidak hanya mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, lebih dari itu pendidikan karakter menekankan pada kebiasaan (habituation) tentang hal mana yang baik dan mana yang buruk sehingga peserta didik menjadi paham (kognitif), mampu merasakan (afektif), dan melakukannya (psikomotor). Dengan kata lain, pendidikan karakter yang baik harus melibatkan ketiga aspek tersebut (moral knowing, moral feeling dan �moral action). Pendidikan karakter menekankan pada habbit atau kebiasaan yang terus menerus dipraktekkan dan dilakukan (Kemendiknas, 2011). Sehingga dapat dikatakan bahwa sebuah karakter dapat berubah tergantung dari sejauh mana komitmen untuk menjalankannya.

Di Indonesia, sekitar tahun 2010 mulai dideklarasikan kembali apa yang dikenal dengan pendidikan karakter oleh pemerintah (Saepudin, 2018). Wacana pendidikan karakter kemudian diperbincangkan dan dibahas baik dalam pendidikan formal maupun tidak, diskusi ilmiah, seminar lokal, nasional maupun internasional. (Marzuki, 2013) menyampaikan bahwa timbulnya deklarasi tersebut diakibatkan oleh perilaku antibudaya dan antikarakter yang diidap masyarakat Indonesia.

Pendidikan karakter mempunyai tujuan penanaman nilai dalam diri siswa dan pembaruan tata kehidupan bersama yang lebih menghargai kebebasan individu. Selain itu, pendidikan karakter bertujuan meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia siswa secara utuh, terpadu, dan seimbang sesuai dengan standar kompetensi lulusan (Samani & Hariyanto, 2011). Tujuan pendidikan karakter yang diharapkan Kementerian Pendidikan Nasional (sekarang: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) adalah seperti berikut. Pertama, mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif siswa sebagai manusia dan warganegara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa. Kedua, mengembangkan kebiasaan dan perilaku siswa yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius. Ketiga, menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab siswa sebagai generasi penerus bangsa. Keempat, mengembangkan kemampuan siswa menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan. Kelima, mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (dignity) (Maunah, 2015).

Pendidikan karakter memiliki tiga fungsi utama. Pertama, fungsi pembentukan dan pengembangan potensi. Pendidikan karakter membentuk dan mengembangkan potensi siswa agar berpikiran baik, berhati baik, dan berperilaku sesuai dengan falsafah pancasila. Kedua, fungsi perbaikan dan penguatan. Pendidikan karakter memperbaiki dan memperkuat peran keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, dan pemerintah untuk ikut berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam pengembangan potensi warga negara dan pembangunan bangsa menuju bangsa yang maju, mandiri, dan sejahtera. Ketiga, fungsi penyaring. Pendidikan karakter memilah budaya bangsa sendiri dan menyaring budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai nilai budaya bangsa dan karakter bangsa yang bermartabat (Zubaedi, 2011).

Sebagai manusia yang berbudaya, pembentukan karakter anak dapat dilakukan melalui budaya-budaya bangsa yang salah satunya yaitu melalui karya sastra berupa lontar. Karya sastra dapat berfungsi sebagai media katarsis (pembersih diri). Aristoteles seorang filsuf dan ahli sastra menyatakan salah satu fungsi sastra adalah sebagai media katarsis atau pembersih jiwa bagi penulis maupun pembacanya. Bagi pembaca, setelah membaca karya sastra perasaan dan pikiran terasa terbuka, karena telah mendapatkan hiburan dan ilmu (tontonan dan tuntunan) (Kanzunnudin, 2011). Di pulau Lombok sendiri terdapat banyak sekali karya sastra yang dituangkan kedalam bentuk lontar seperti Lontar Rengganis, Bandersela, Puspakerma, Dajal, Babad Selaparang, Cupak Gerantang, Silsilah Batu Dendeng, Kotaragama, Cilinaya dan Rare Sigar. Namun dalam kesempatan ini penulis tertarik untuk menguak kisah yang terdapat dalam naskah lontar Cilinaya. Naskah Cilinaya merupakan salah satu karya sastra kekayaan budaya bangsa masa lampau dari Nusa Tenggara Barat. Naskah ini terdapat di Museum Negeri NTB yang ditulis dengan aksara daerah lokal (Sasak: Jejawen) dengan bahasa pengantar bahasa daerah (lokal) dan bahasa jawa madya dengan nomor inventaris: 07. 932. Terdapat 24 versi naskah Lontar Cilinaya, naskah lontar dengan nomor inventaris 07.934 dipilih karena naskah tersebut berisi cerita yang paling lengkap diantara naskah lainnya. Karena keterbatasan penulis dalam menggunakan bahasa daerah (lokal) Lombok (bahasa Sasak), maka penulis menggunakan naskah Lontar Cilinaya yang telah di transliterasi dan di terjemahkan.

������ Ajaran-ajaran yang terkandung dalam Lontar Cilinaya memuat filsafat kehidupan yang tinggi seperti dari segi etika, pendidikan, sosial, kepemimpinan dan khususnya mengenai nilai-nilai pendidikan karakter. Inilah yang menjadi ketertarikan penulis untuk mengkaji lebih dalam mengenai Lontar Cilinaya yang sarat akan nilai-nilai pendidikan karakter, sehingga jika dikaitkan dengan berbagai persoalan yang mendera anak bangsa sekiranya dapat diatasi melalui pemahaman teori yang terdapat dalam naskah lontar ini. Dengan diadakannya penelitian ini, penulis berharap agar penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu acuan dalam upaya meningkatkan kwalitas pendidikan karakter bagi peserta didik dan masyarakat pada umumnya sehingga mampu meningkatkan potensi bangsa dalam bidang pendidikan. Selain itu, penelitian ini juga dapat dijadikan sebagai salah satu upaya dalam membantu pemerintah untuk mencipakan bangsa yang cerdas dan berkarakter.

 

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif. Adapun metode kualitatif ini bertujuan untuk memaparkan data apa adanya dalam bentuk kata-kata, gambar, bukan angka, kalaupun ada angka-angka sifatnya sebagai pendukung manakala ada yang kurang sempurna (Zaenab, 2015). Dalam pelaksanaan penelitian peneliti menggunakan dua tekhnik pengumpulan data yaitu dokumentasi dan metode kepustakaan. Selanjutnya data yang telah dikumpulkan dianalisis dengan proses reduksi data, kemudian penyajian data serta pada akhirnya dilakukan panarikan kesimpulan. Untuk mempermudah proses analisis data digunakan teori hermeneutika.

 

Hasil dan Pembahasan

A.  Naskah Lontar Cilinaya

Cilinaya merupakan cerita rakyat masyarakat bersuku sasak yang dituangkan dalam bentuk tulisan berupa lontar. Pada setiap daerah penuturan cerita Cilinaya biasanya ditambahkan ataupun dikurangi sesuai dengan lokasi dimana cerita ini dituturkan, maka tak heran bila terdapat 24 versi cerita Cilinaya yang telah dituangkan dalam bentuk Lontar. Lontar Cilinaya yang diangkat dalam penelitian ini bernomor inventaris 07. 932 dengan ukuran naskah pj: 16,5 cm. lbr: 3cm. tbl: 13,5 cm, ukuran teks: pj: 10,5 cm. lbr: 2,5 cm, berbahan daun lontar yang diapit dengan kayu, bagian pinggir kiri kanan dibuatkan lobang sebagai tempat pasak yang terbuat dari bahan bambu, bagian tengah dibuatkan tali pengikat dari bahan benang, naskah terdiri dari 197 lempir. Bagian depan naskah (kolofon) bertuliskan huruf jejawen (bentuk huruf Sasak). Lontar Cilinaya ini terdiri atas 13 jenis Puh atau Pupuh dan 340 bait yaitu Puh Semaranggirang (5 bait), Puh Dangdang (35 bait), Puh Pangkur (30 bait), Puh Sinom (39 bait), Puh Maskumirah (6 bait), Puh Kubur Cara Bali (3 bait), Semaya Mati (45 bait), Puh Maskumambang (31 bait), Puh Kubur Cara Bali (18 bait), Puh Durma (30 bait), Puh Kubur Cara Bali (85 bait), Puh Dangdang (8 bait), dan Puh Meongambar (5 bait) (Penyusun, 2002).

B.  Ringkasan Cerita Cilinaya

Diceritakan, berdiri dua buah kerajaan yaitu kerajaan Daha dan kerajaan Kling, kedua kerajaan ini dipimpin oleh dua orang bersaudara yang bernama raja Daha dan raja Kling. Mereka telah lama berumah tangga namun belum dikaruniai anak. Pada suatu saat raja Daha dan raja Kling pergi ke Bhatara Guru untuk bermohon agar segera diberikan keturunan. Dengan berbagai ucapan janji (kaul) raja Daha, bila kelak dikaruniai anak perempuan, maka akan datang kembali untuk membayar janji (kaul) dengan memotong dua ekor kerbau bertanduk emas, berekor sutera, berkaki perak, kemudian akan berpesta dengan penuh kemeriahan selama tujuh hari tujuh malam. Sedangkan raja Kling berjanji bila kelak dikaruniai anak laki-laki maka akan datang kembali dengan membawa selembar sirih, sebilah pinang dan sepenyusur tembakau.

Dengan takdir Yang Maha Kuasa raja Daha dan raja Kling dikabulkan doanya, raja Daha mempunyai anak perempuan, sedangkan raja Kling mempunyai anak laki-laki. Kedua raja sagat senang dan gembira mempunyai anak, sehingga mereka bermaksud untuk membayar janji (kaul), namun apa yang terjadi raja Daha tidak mampu membayar janjinya, pada akhirnya anaknya diterbangkan angin dan jatuh di taman Amaq Bangkol. Amaq Bangkol sangat senang menemukan seorang anak perempuan kemudian diasuhnya. Raja Kling yang mengucapkan janji tidak terlalu istimewa, dapat melaksanakan janji (kaulnya) dengan lebih meriah.

Inaq Bangkol pergi menjual kain hasil dari songketan anak angkatnya, dan pergi menjual ke istana raja Kling, Raja Kling sangat kagum dengan kain songket Inaq Bangkol, sang raja bertanya kepada Inaq Bangkol siapakah yang menenun kain songket ini, Inaq Bangkol tak mau mengakuinya. Atas perintah ayahanda, Putra raja Kling pergi berburu ditengah hutan untuk mencari hati menjangan warna putih sebagai obat ayahandanya. Berhari-hari pergi berburu namun tak satupun yang didapatkan, karena kelelahan ditengah hutan ditemukan sebuah pondok dan terdengar suara orang menenun. Putra raja berusaha untuk menemukan siapakah yang menenun, namun usahanya sia-sia. Suatu ketika secara tidak sengaja hulu keris sang raja yang diselipkan dipunggungnya terlilit oleh sehelai rambut yang keluar dari dalam terundak, sang raja berusaha untuk menariknya, namun yang keluar adalah seorang gadis yang cantik jelita, sang raja menjadi pingsan. Raja Kling sangat gelisah akan kepergian anaknya, telah berhari-hari bahkan sampai berbulan-bulan pergi berburu tidak ada kabar beritanya. Pada suatu ketika putra raja pulang menghadap kepada ayahanda dan melaporkan bahwa dirinya mau mengawini seorang gadis keturunan sudra. Sang raja Kling sangat marah dan tidak setuju atas keinginan anaknya kawin dengan orang yang berbeda status sosialnya.

Raja Kling memerintahkan juru potong untuk membunuh sang putri. Sang putri dibuang ketengah hutan di pinggir pantai Tanjung Menangis untuk dibunuh. Sang putri berpesan sebelum dibunuh, bila nanti darahku keluar dan berbau busuk maka saya adalah keturunan sudra, tapi bila nanti darah saya keluar dan meluncur keatas dan baunya harum maka saya adalah keturunan raja. Sang putri dibunuh darahnya keluar keatas dan baunya sangat harum. Juru potong sangat menyesal atas perbuatanya, akhirnya datanglah suara yang memerintahkan agar jenazah itu dimasukkan kedalam peti (tabla) diikat dan dibuang ketengah laut, waktu diputuskan talinya sang putri diberinama Lumegarsih. Raja Daha pergi kepantai dan melihat sebuah peti dan diatasnya dihinggapi burung gagak berwarna putih polos yang dibawa arus gelombang ke pesisir pantai, kemudian tabla itu diangkat oleh raja Daha dan dibuka ternyata isinya adalah seorang anak perempuan yang cantik, raja Daha berpestaria dengan penuh kegembiraan.

C.  Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Naskah Lontar Cilinaya

Dari penelusuran bait-bait dalam naskah lontar Cilinaya, maka peneliti menemukan 35 bait yang mengandung nilai-nilai pendidikan karakter yaitu nilai religius, jujur, kerja keras, demokratis, menghargai prestasi/sikap/tindakan, bersahabat/komunikatif, cinta damai, rasa ingin tahu, gemar membaca, peduli sosial, dan tanggung jawab. peneliti mencoba menafsirkan hasil pemikiran pengarang dengan uraian sebagai berikut.

Religius yaitu sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain (Fadilah, 2012). Nilai religius pada naskah lontar Cilinaya terdapat pada bait 5, bait 131, bait 207, bait 313 yang mencerminkan percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa pada bait 5: �turut kreng sitisaduq ngembakti liq Tuhan, leq tumangebakti (4a), singu bani suruta surut� yang artinya �turut perintah Tuhan, tempatnya kita berbakti dan tetap memohon padaNya. Berbakti pada orang tua pada bait 131 yaitu seorang anak diajarkan selalu hormat dan bhakti kepada orang tua. Patuh dalam setiap tugas yang diberikan. Selalu bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa pada bait 313: �be (177a) leq haget ku dahit bijan, katariman siq hyang ngagung,� haran siqna beleq kasukaq� yang artinya sangat senang menemukan anak, dikabulkan oleh Tuhan, kita sangat berbahagia.

Jujur yaitu perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan (Fadilah, 2012). Kejujuran adalah dasar dari komunikasi yang efektif dan hubungan yang sehat. Jujur jika diartikan secara baku adalah mengakui, berkata atau memberikan suatu informasi yang sesuai dengan kenyataan dan kebenaran (Messi & Harapan, 2017). Nilai jujur pada naskah lontar Cilinaya terdapat pada bait 31, bait 95, bait 96, dan bait 111. Hendaknya setiap orang setia akan perkataan yang telah diucapkan (satya wacana) seperti pada bait 31: �Hendaq sida birat tabija� artinya Jangan berat pada janji bila dikaruniai anak. Setia akan diri sendiri (satya hredaya) pada bait 95: �huwah kaji lalo mamikat kritan, pulih kaji ratu� yang artinya saya sudah pergi memikat burung, menemukan seorang putri. Pada bait 96 ditegaskan �Duh hanganku salaloq jari timpan� yang artinya Cinta saya telah sesuai dengan pilihan. Serta menerapkan ajaran panca satya pada bait 111: �hangan kaji deqna haraq laloq mamiq, bares gamaq sino siq neka� yang artinya keinginan ananda tidak ada sama sekali, nanti dulu ayahanda.

Kerja keras yaitu perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya (Fadilah, 2012). Nilai kerja keras pada naskah lontar Cilinaya terdapat pada bait 7, bait 134, bait 135, bait 136, dan bait 249. Pada bait 7: �genna neda, layit batara siq sakti� yang artinya �untuk memohon, kepada Batara yang sakti� dari bait ini peneliti melihat kerja keras yang dilakukan oleh orang tua untuk mendapatkan seorang anak. Kerja keras yang dilaksanakan secara lahir dan batin hingga memohon kepada Bhatara yang sakti. Bait ini mengajarkan untuk senantiasa berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa maupun kepada manifestasinya. Berdoa merupakan cara manusia berkomunikasi dengan Tuhan. Selain lebih mendekatkan diri pada Tuhan, rajin berdoa juga mampu meningkatkan keimanan, bila bibit sifat baik berkembang maka keseimbangan hidup pun terjadi. Doa memiliki kekuatan yang sangat besar. Ketika seseorang melafalkan doa-doa dan mantra, ia akan menciptakan getaran. Getaran ini memasukkan spasi dan menciptakan energi, energi ini dapat menjadi energi positif atau energi negatif. Energi ini kemudian memiliki efek pada ruang yang membentuk tubuh manusia yang secara tidak langsung memberikan sugesti pada alam bawah sadarnya (Titib, 2012). Lalu pada bait 134, 135, dan 136 yang menceritakan Raden Panji, Wirun dan Kalam mengelilingi hutan mencari hati menjangan putih untuk obat ayahnya Raja Kling yang sedang sakit, hal tersebut mencerminkan usaha untuk melayani orang tua, raja, dan masyarakat. Pada bait 249 yang menceritakan raja Daha yang mengambil tabla di tepi pantai, dengan maksud bahwa setiap hasil yang seseorang inginkan harus dibarengi dengan usaha sendiri tanpa campur tangan orang lain.

Demokratis yaitu cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban darinya dan orang lain (Fadilah, 2012). Secara etimologis istilah demokrasi berasal dari kata Yunani, �demos� berarti rakyat dan �kratos/kratein� berarti kekuasaan. Konsep dasar demokrasi berarti �rakyat berkuasa� ( government of rulle by the people). Ada pula definisi singkat untuk istilah demokrasi yang diartikan sebagai pemerintahan atau kekuasaan dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Namun demikian penerapan demokrasi diberbagai negara di dunia, memiliki ciri khas dan spesifikasi masing-masing, yang lazimnya sangat oleh ciri khas masyarakat sebagai rakyat dalam suatu Negara (Kaelan, 2016). Nilai demokratis pada naskah lontar Cilinaya terdapat pada bait 98: �hendeqna sedeng time pecahi kurungan paseh meq lahin� yang artinya tidak sesuai dengan kasta kurang baik kamu kesana. Bait ini menjelaskan bahwa pada jaman kerajaan tidak ada kebebasan dalam memilih pasangan, sebab keturunan kerajaan harus memilih pasangan yang berasal dari keluarga kerajaan pula.

Menghargai prestasi, sikap, dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat dan mengakui serta menghormati keberhasilan orang lain (Fadilah, 2012). Nilai menghargai prestasi, sikap, dan tindakan pada naskah lontar Cilinaya terdapat pada bait 50 dan bait 333. Pada bait 50: �Silak kakak sida julu� yang artinya silahkan kakak yang mendahului, mencerminkan seorang adik yang menghargai kakaknya yang lebih tua dan bait 333: Banjur kocap ha (190b) conganno takattir� artinya diceritakan caranya dipopong sang raja yang akan pergi, mencerminkan seorang raja yang dihormati dan dicintai oleh rakyatnya akan mendapatkan perlakuan khusus.

Bersahabat atau komunikatif yaitu tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain lain (Fadilah, 2012). Nilai Bersahabat atau komunikatif pada naskah lontar Cilinaya terdapat pada bait 100, bait 103, dan bait 339. Pada bait 100 mencerminkan komunikasi yang baik antara pasangan suami istri Raden Panji dan Putri Cilinaya: �hapan maniq mamiq datu, neneq laki banjur nguca� yang artinya apa katanya ayahanda lalu sang raja memberitahukan. Pada bait 103: �huleq makin mamiq dewa� artinya pulanglah sekarang perintah ayahanda, mencerminkan komunikasi antara seorang ayah dan putranya. Pada bait 339: �nane haku heyaq tegentiq (195b) neneq laki ngdaq ratu� artinya sekarang saya akan diganti menjadi raja, mencerminkan hubungan komunikasi yang baik antara serang raja dan rakyatnya.

Cinta damai yaitu sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya (Fadilah, 2012). Nilai cinta damai pada naskah lontar Cilinaya terdapat pada bait 147 yang menceritakan tentang Cilinaya yang bersedia untuk dibunuh berdasarkan perintah dari mertuanya raja Kling. Hal tersebut dilakukan karena ia tidak menginginkan terjadi keributan karena kesalahannya yang telah menikah dengan Raden Panji. Hal tersebut juga mencerminkan nilai peduli sosial yang sangat tinggi, sebab bila putri Cilinaya hanya memikirkan dirinya sendiri bisa saja ia melakukan pemberontakan dan menolak untuk dibunuh. Putri Cilinaya yang berjiwa besar memilih untuk meninggalkan suami dan anaknya yang masih kecil untuk mewujudkan kedamaian di kerajaan Kling.

Rasa ingin tahu yaitu sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar (Fadilah, 2012). Nilai rasa ingin tahu pada naskah lontar Cilinaya terdapat pada bait 58, bait 74, bait 75, bait 79, bait 224, bait 233, bait 268, dan bait 282. Pada bait 58, 74 dan 75 menceritakan rasaingin tahu Raden Panji akan keberadaan putri Cilinaya yang dijawab pada bait 79: �baya hapa siq ngantuq hya, kerisku siq genna trik� yang artinya siapakah yang menarik, keris saya ini. Pada bait 224: �hahoq kakaq patutang temah hipi� artinya sekarang artikan makna mimpiku. Bait 233: �leq lendang siq guwar, haraq mambuna, neneq bini seno turutna, lampaqna nano pada glis� yang artinya di hutan yang luas, ada keluar bau, sang raja mencari sumber bau itu, langkahnya semakin cepat, Raden Panji yang mendapatkan firasat buruk terhadap istrinya Cilinaya. Bait 268 dan 282: �giatq tandang ki Magarsih, tandana deq picak lanaq, luweh dengan bengaq weweh, pada bapase hadeng deng, baye hembe heloqna� yang artinya melihat cara Lumagarsih, caranya luar biasa, banyak orang menjadi heran, sambil berbisik pelan-pelan, bertanya darimana asalnya, bahwa orang yang berprestasi akan menimbulkan rasa ingin tahu dan kekaguman orang lain bahkan putri raja.

Gemar membaca yaitu kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya (Fadilah, 2012). Nilai gemar membaca pada naskah lontar Cilinaya terdapat pada bait 4: �Sangkaq na haraq sastra tahaji� artinya supaya ada yang dibaca. Lontar tersebut dibuat dengan maksud menumbuhkan minat membaca masyarakat yang ada di pulau Lombok, sebab dengan budaya membaca pengetahun masyarakat akan semakin bertambah.

Peduli sosial yaitu sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan (Fadilah, 2012). Nilai peduli sosial pada naskah lontar Cilinaya terdapat pada bait 8, bait 15, bait 21, bait 61 dan bait 62. Pada bait 8: �datang banjur glis, datu pada berisik sanakna� yang artinya raja Daha segera berangkat, ketempat saudaranya, mengajarkan budaya dharma santi untuk mempererat hubungan persaudaraan. Bait 15 dan 21: �heleq pada jahud kayuq tarik, bilang dasan, pada tariq siq balembah, nina mama pada rame, haraq jahud da (16b) hun busung, haraq jahud daun tuntiq� yang artinya semuanya mebawa kayu, tiap dusun, semuanya memikul, ramai laki perempuan, ada yang membawa daun janur, juga ada yang membawa daun pisang, nilai gotong royong yang dilakukan oleh masyarakat kerajaan Kling karena rajanya dikaruniai seorang anak. Pada Bait 61: �huwah kumikat laguq lajur, nane kuleq sida, tok kunindoq gancangan siq, meran kaji laguq sangaran-ngaran� yang artinya saya sudah pergi mikat, saya mondok disini, tempat saya melepas lelah, ya tuanku disini hanya apa adanya. Bait 62: �hinaq Bangkol meriyap� yang artinya Inaq Bangkol segera memasakkan, mencerminkan pelayanan kepada tamu yang datang kerumah.

Tanggung jawab yaitu sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dilakukan terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial, dan budaya), negara, dan Tuhan Yang Maha Esa (Fadilah, 2012). Nilai tanggung jawab pada naskah lontar Cilinaya terdapat pada bait 18: �haku nane, heyahku nyahur sesangi� yang artinya saya sekarang, akan membayar kaulku. Setiap orang harus bertanggung jawab atas janji yang telah diucapkan. Dalam bait ini diceritakan bahwa raja Kling yang telah dikaruniai seorang anak, mengumumkan kepada rakyatnya bahwa ia akan membayar kaul atau janjinya. Dalam hal ini, raja Kling memberikan contoh kepada rakyatnya bahwa apa yang telah diucapkan harus dipertanggung jawabkan. Dalam agama Hindu hal ini disebut dengan satya wacana, satya wacana adalah setia terhadap janji atau perkataan yang telah diucapkan. Dengan melaksanakan satya wacana maka secara tidak langsung orang tersebut telah menjaga salah satu indria untuk tidak berkata sembarangan atau mengumbar janji kepada siapapun (wacika). Dalam Sarasamuscaya dikatakan bahwa terdapat empat macam perbuatan melalui perkataan yang patut di kendalikan, yaitu: tidak suka mencaci maki. tidak berkata-kata kasar pada siapapun. Tidak menjelek-jelekan, apalagi memfitnah makhluk lain. Tidak ingkar janji atau berkata bohong. Oleh sebab itu, tidak hanya perbuatan yang harus dipertanggung jawabkan, namun ucapan atau perkataan yang telah dibuat juga harus dipertanggung jawabkan.

 

Kesimpulan

Lontar Cilinaya merupakan salah satu cerita rakyat masyarakat bersuku sasak yang dituangkan dalam bentuk tulisan berupa lontar. Naskah lontar ini terdiri atas 13 jenis Puh atau Pupuh dan 340 bait. Puh Semaranggirang (5 bait), Puh Dangdang (35 bait), Puh Pangkur (30 bait), Puh Sinom (39 bait), Puh Maskumirah (6 bait), Puh Kubur Cara Bali (3 bait), Semaya Mati (45 bait), Puh Maskumambang (31 bait), Puh Kubur Cara Bali (18 bait), Puh Durma (30 bait), Puh Kubur Cara Bali (85 bait), Puh Dangdang (8 bait), dan Puh Meongambar (5 bait). Berdasarkan penelitian dan hasil analisa pada naskah lontar Cilinaya dengan nomor inventaris 07.932, maka penulis menyimpulkan bahwa nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat didalamnya meliputi: yang pertama nilai religius yang terdapat pada bait 2, bait 131, bait 207, bait 313. Kedua, nilai jujur yang terdapat dalam bait 95, bait 96, bait 313. Ketiga, nilai kerja keras yang terdapat dalam bait 7, bait 134, bait 135, bait 136, bait 249. Keempat, nilai demokratis pada bait 98. Kelima, nilai menghargai prestasi/sikap/ tindakan pada bait 50 dan bait 333. Keenam, nilai bersahabat/komunikatif yang terdapat dalam bait 100, 103, 339. Ketujuh, nilai cinta damai pada bait 147. Kedelapan, nilai rasa ingin tahu yang terdapat dalam bait 58, bait 74, bait 75, bait 79, bait 224, bait 233, bait 268, bait 282. Kesembilan, nilai gemar membaca yang terdapat dalam bait 4. Kesepuluh, nilai peduli sosial yang terdapat dalam bait 8, bait 15, bait 21, bait 61, dan bait 62. Terakhir yaitu nilai tanggung jawab yang terdapat dalam bait 18.�


Bibliografi

 

Fadilah, M. d. (2012). Pendidikan Karakter Anak Usia Dini. Jogjakarta: Ar-Ruzzmedia.

 

Kaelan. (2016). Pendidikan Kewarganegaraan untuk Perguruan Tinggi. Yogyakarta: Paradigma.

 

Kanzunnudin, M. (2011). Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi.

 

Kemendiknas, B. (2011). Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter. Jakarta: Pusat Kurikulum Dan Perbukuan.

 

Laksana, S. D. (2016). Urgensi Pendidikan Karakter Bangsa di Sekolah. Muaddib: Studi Kependidikan Dan Keislaman, 5(2), 167�184.

 

Marzuki, M. (2013). Revitalisasi Pendidikan Agama Di Sekolah Dalam Pembangunan Karakter Bangsa Di Masa Depan. Jurnal Pendidikan Karakter, 1, 121902.

 

Maunah, B. (2015). Implementasi pendidikan karakter dalam pembentukan kepribadian holistik siswa. Jurnal Pendidikan Karakter, 1.

 

Messi, M., & Harapan, E. (2017). Menanamkan Nilai Nilai Kejujuran Di Dalam Kegiatan Madrasah Berasrama (Boarding School). JMKSP (Jurnal Manajemen, Kepemimpinan, Dan Supervisi Pendidikan), 2(2), 278�289.

 

Penyusun, T. (2002). Transletasi dan Terjemahan Naskah Lontar Cilinaya. Mataram: Museum Negeri Nusa Tenggara Barat.

 

Saepudin, A. (2018). Konsep Pendidikan Karakter dalam Perspektif Psikologi dan Islam. Syntax Literate; Jurnal Ilmiah Indonesia, 3(1), 11�20.

 

Samani, M., & Hariyanto, M. S. (2011). Konsep dan model pendidikan karakter. Bandung: Remaja Rosdakarya.

 

Titib, I. M. (2012). Keutamaan Manusia dan Pendidikan Budi Pekerti. Surabaya: Paramita.

 

Zaenab, S. (2015). Metodologi Penelitian Pendidikan Kualitatif Perspektif Kekinian. Malang: Selaras.

 

Zubaedi, D. P. K. (2011). Konsepsi dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan. Jakarta: Kencana.